Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

UMS Kukuhkan Dua Guru Besar, Menjadi Motivasi Dosen Lainnya

Damianus Bram • Minggu, 7 Agustus 2022 | 19:55 WIB
PENGUKUHAN GUBES: Dari kiri ke kanan, Rektor UMS Sofyan Anif,   Guru Besar Bidang Sosiologi Islam M. Abdul Fattah Santoso, Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Kelik Wardiono, dan Ketua LLDikti VI Bhimo Widyo Andoko, kemarin (6/8). (SEPTINA FADIA/RADAR SOLO)
PENGUKUHAN GUBES: Dari kiri ke kanan, Rektor UMS Sofyan Anif, Guru Besar Bidang Sosiologi Islam M. Abdul Fattah Santoso, Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Kelik Wardiono, dan Ketua LLDikti VI Bhimo Widyo Andoko, kemarin (6/8). (SEPTINA FADIA/RADAR SOLO)
SOLO – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengukuhkan dua guru besar di Auditorium Mohamad Djazman, kemarin (6/8). Tidak seperti biasanya, pengukuhan guru besar kali ini adalah dua tokoh besar UMS, yakni M. Abdul Fattah Santoso, guru besar bidang Sosiologi Islam, dan Kelik Wardiono, guru besar bidang Ilmu Hukum.

Tak hanya itu, M. Abdul Fattah Santoso juga menjadi guru besar Emeritus perdana di UMS. “Kami berharap ini menjadi motivasi para dosen yang sudah mendekati masa pensiun untuk terus mengurus persyaratan guru besar. Karena kami sudah punya aturan baru untuk guru besar emeritus setelah pengukuhan ini," ungkap Rektor UMS Sofyan Anif dalam sambutannya.

Sofyan menyebut, pengukuhan guru besar kali ini istimewa. Sebab, M. Abdul Fattah Santoso adalah tokoh penting di UMS. Sebagai guru dari hampir seluruh guru besar UMS, sedangkan Kelik Wardiono adalah guru besar dengan jumlah scopus terbanyak di UMS. Sekitar 1.200 tulisan.

Pengukuhan guru besar dua tokoh besar ini diklaim Sofyan sebagai suatu keberhasilan rektor untuk memotivasi dosen mengajukan persyaratan guru besar.

"Pengajuan persyaratan guru besar ini jadi sebuah tuntutan bagi UMS. Sebagai kampus yang sudah punya nama besar, prosedur ini tidak bisa tidak dilakukan. Tidak boleh ada halangan. Maka kami sebut pengukuhan guru besar kali ini istimewa, karena Pak Fattah Santoso tetap bisa menjadi guru besar meski sudah memasuki masa pensiun," paparnya.

Sementara itu, dalam pidatonya, M. Abdul Fattah Santoso menyampaikan materi orasi tentang urgensi sosiologi Islam. Di dalam ilmu tersebut ada asumsi filosofis bahwa Wahyu menjadi sumber pengetahuan.

Di balik asumsi itu ada hubungan manusia dengan Tuhan sangat memengaruhi perilaku dan tindakannya. Studi kasus perencanaan Ibu Kota Malaysia Putrajaya.

"Menurut saya, perencanaan itu luar biasa. Tiap lokasi gedung melambangkan hubungan antara Tuhan dan manusia. Gedung perdana menteri berada di satu garis lurus berhadapan dengan convention hall yang menjadi simbol sebagai rakyat. Artinya, orientasi perdana menteri dalam melaksanakan program-programnya adalah rakyat," tuturnya.

Sedangkan, Kelik Wardiono menyampaikan materi orasi tentang epistemologi profetik. Menurutnya, perlu dipikirkan adanya sebuah alternatif epistemologi dalam pengembangan ilmu hukum. Yang kemudian menjadi epistemologi profetik atau ilmu hukum profetik.

Persoalan yang dihadapi sebagian ilmuwan saat ini, terutama dari para ilmuwan Islam dan filosofis Islam, yaitu dikeluarkannya wahyu sebagai bagian dari objek ilmu pengetahuan dan epistemologi.

"Menurut sebagian sarjana dan filosofis selama ini, terjadi yang namanya imperalisme epistemologi. Mereka menganggap vitalitas agama tidak pernah surut apalagi mati. Maka perlu dipertimbangkan adanya kemungkinan untuk memasukkan agama sebagai bagian dari proses perkembangan ilmu," pungkasnya. (aya/wa/dam) Editor : Damianus Bram
#Dua Guru Besar UMS #Guru Besar UMS #M. Abdul Fattah Santoso #universitas muhammadiyah surakarta #UMS #Kelik Wardiono