Kesuburan tanah yang makin menurun membuat biaya pemupukan makin membengkak karena dibarengi dengan kelangkaan pupuk dunia dan berkurangnya subsidi pupuk pemerintah. Masalah perubahan iklim dan serangan hama juga menyebabkan penurunan hasil produksi padi menurun drastis.
Tentrem, salah seorang petani padi di Desa Jelobo mengungkapkan bahwa pada musim panen ini, dirinya hanya mampu memanen 3 ton padi per petak. Padahal pada musim sebelumnya ia mendapatkan setidaknya 10 ton padi per petak.
Menimbang masalah tersebut, mahasiswa KKN kelompok 239 dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) menggelar sosialisasi untuk mengoptimalisasi pertanian di Desa Jelobo. Kegiatan ini dilakukan dalam 3 tema dengan 3 narasumber yang berbeda dan diikuti oleh perwakilan petani Desa Jelobo.
Acara pertama dilakukan pada tanggal 4 Agustus 2022 dengan tema Pengelolaan Tanah dan Irigasi dengan narasumber Komariyah, STP., MSc., PhD., seorang dosen di Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, UNS.
Dalam kegiatan ini, Komariyah menjelaskan bahwa tanah pertanian di Indonesia memang semakin tidak subur dan mengeras karena meningkatnya penggunaan pupuk kimia. Oleh karena itu, dia menyarankan agar petani mulai beralih kembali ke pupuk organik dan mengistirahatkan lahan untuk mengembalikan kesuburan tanah tanah.
Dia juga menyarankan agar petani mulai mengurangi penggunaan sumur bor untuk irigasi, karena berpotensi menghabiskan cadangan air bersih di masa depan, dan diganti dengan mulai menampung air hujan. Pasalnya pengairan pertanaman tidak membutuhkan air yang terlalu bersih.
Sosialisasi dan pelatihan yang kedua digelar pada tanggal 9 Agustus 2022 dengan tema pengolahan pupuk, disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Sudadi, Wakil Dekan II, Fakultas Pertanian, UNS. Pada acara tersebut, narasumber menyampaikan keunggulan dan pentingnya penggunaan pupuk organik dibandingkan pupuk kimia.
Prof. Sudadi menyampaikan bahwa pupuk kimia tidak menutrisi tanah sehingga lahan semakin tidak subur dan pupuk kimia yang digunakan menjadi semakin banyak. Dia juga memberikan praktek pelatihan pembuatan pupuk kompos secara sederhana dari bahan organik dan anorganik, berupa kotoran hewan, daun kering, sampah makanan, dekomposer, dan tetes tebu.
Sedangkan, sosialisasi ketiga yang diadakan pada tanggal 11 Agustus 2022 disampaikan oleh Raden Kunto Adi, SP., MP., dengan tema Efisiensi dan Produktivitas Hasil Pertanian. Di kesempatan ini, narasumber mengajarkan kiat-kiat untuk meningkatkan keuntungan hasil pertanian dengan membuatnya menjadi produk olahan.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Jelobo, mengakui bahwa petani sudah ketergantungan pupuk kimia sehingga walau harganya makin mahal akan tetap dibeli, dimana biaya pemupukan terus membengkak dari tahun ke tahun karena dosisnya semakin meningkat. Sedangkan, hasil panen terus menurun tetapi harga jualnya sangat murah karena langsung dijual ke tengkulak tanpa diolah terlebih dahulu.
Dengan kegiatan-kegiatan tersebut, Kepala Desa mengharapkan petani di Desa Jelobo dapat makin sejahtera. Beliau juga berharap agar kerjasama antara Desa Jelobo dan UNS dapat terus terjalin. (rls) Editor : Damianus Bram