Kepala SMPN 21 Surakarta Mulyono menuturkan, kegiatan tersebut sebagai implementasi kokurikuler berbasis projek dalam Kurikulum Merdeka. Pada implementasi P5, difokuskan untuk memberikan pelajaran lebih mendalam serta bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.
”Mengapa kami mengambil tema itu, karena berkaitan dengan masyarakat sekitar yang kebanyakan berjualan jamu. Lingkungan kawasan sekolah juga cukup padat penduduk. Sehingga dengan raga yang sehat, nanti akan berpengaruh ke jiwa dan proses pembelajaran,” ujarnya.
Selain berfokus pada kesehatan, kegiatan P5 dengan produk jamu tradisional dipilih untuk mengangkat kearifan lokal. Bukan hal yang baru jika jamu tradisional masih dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Pada kegiatan P5, siswa juga diajarkan secara langsung oleh praktisi jamu gendong untuk membuat ramuan jamu tradisional.
”Kami mengundang ibu-ibu penjual jamu gendong untuk memberikan bimbingan materi sekaligus praktik pembuatan jamu kepada siswa,” tambahnya.
Kegiatan tersebut diikuti semua siswa kelas VII. Dibagi kelompok masing-masing 5-6 siswa. Masing-masing kelompok, kemudian ditugaskan membuat satu jenis jamu. Praktik tersebut diharapkan meningkatkan kreativitas siswa.
”Selain kreativitas, anak-anak kami bangun kerja samanya. Dengan harapan nantinya dalam kehidupan sehari-hari mereka memiliki jiwa gotong-royong. Dan kemandiriannya, karena setiap kelompok menyiapkan bahan-bahan secara mandiri,” urai Mulyono.
Ketua tim kreatif program P5 Vety Triyana mengungkapkan, pemilihan jamu tradisional disesuaikan dengan kondisi saat ini yang masih dalam lingkup pandemi Covid-19. Selain itu, saat ini para generasi muda juga tidak banyak yang tahu terkait jamu tradisional sebagai kearifan lokal.
”Bahkan anak-naka itu banyak yang belum pernah mencoba dan meminumnya. Padahal mbah-mbahnya berjualan jamu. Sehingga kita kenalkan jamu ini pada mereka melalui kegiatan P5 ini,” tandasnya. (mg9/ian/adi) Editor : Damianus Bram