Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta Tatik Harpawati menuturkan, pengabdian FSP mencangkup lima program studi. Yakni jurusan pedalangan, etnomusikologi, tari, karawitan, dan teater. Pengabdian tersebut digolongkan pada pengabdian masyarakat jenis besar. Sedangkan pengabdian masyarakat jenis kecil, seperti membantu masyarakat untuk pelatihan tari, menjadi juri seni, dan melakukan sosialisasi terkait seni pada masyarakat.
”Pengabdian yang besar ini ada enam desa, di luar itu ada puluhan. Namun, yang benar-benar terlihat hasilnya ada di enam desa tersebut,” kata Tatik, Kamis (29/9/2022).
Salah satunya di Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul yang dibina dalam bidang seni tari dan karawitan. Dosen FSP ISI Surakarta secara rutin datang ke desa untuk membina potensi seni masyarakat di Desa Melikan. Hingga saat ini, desa kecil tersebut mulai dilirik banyak wisatawan dari daerah lainnya. Pengabdian masyarakat FSP ISI Surakarta memprakarsai berdirinya pendapa dan panggung sebagai wadah pertunjukan seni masyarakat sekitar.
Pendampingan juga dilakukan di Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo yang memiliki potensi jambu air. Potensi tersebut bisa membuka peluang yang besar untuk menjadi desa wisata. Namun, sayangnya masih banyak masyarakat yang belum mengenal Desa Pranan sebagai penghasil jambu air. Melalui program FSP ISI Surakarta mengabdi, diciptakanlah Festival Jambu Air Pranan untuk menarik para wisatawan sekaligus mengenalkan potensi yang dimiliki Desa Pranan.
”Ada juga Desa Krajan, Sukoharjo yang banyak memiliki produsen blangkon. Pak lurahnya ingin membuat Krajan sebagai desa wisata dengan basic-nya adalah adat tradisi. Kemudian kami buatkan satu lomba Jemparingan yang diikuti 400 peserta. Tetapi semua peserta wajib menggunakan blangkon,” ungkapnya.
Tidak hanya dalam bidang tari, FSP ISI Surakarta juga melakukan pendampingan pada Desa Tanggan, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen yang memiliki potensi sejarah yang menarik untuk menciptakan buku sejarah. Bersama dengan masyarakat desa, FSP ISI Surakarta membuat buku asal-usul sejarah. Serta menghidupkan kembali kesenian Jedor yang sempat mati.
Di Desa Manyar Rejo, Sangiran, Sragen, FSP ISI Surakarta juga menciptakan karya seni tari Rempeg Balung Buto. Pertunjukan seni tari ini untuk mengenalkan fosil-fosil di Sangiran melalui seni tari. Selain itu juga menciptakan wayang dengan nama lakon Wayang Balung Buto.
”Melalui seni ini, kami ingin mengingatkan pada masyarakat atau wisatawan bahwa balungan atau fosil ini jangan sembarangan dijual,” ungkapnya.
Terakhir, FSP ISI Surakarta juga bekerja sama dengan Keraton Kasunanan Surakarta untuk mengangkat budaya keraton dengan sentuhan seni akademisi. Pengarah gaya peragawati pada Hari Batik Nasional juga akan diperagakan oleh mahasiswa ISI Surakarta. Secara berkelanjutan, FSP ISI Surakarta juga akan menampilkan dan mengangkat budaya keraton.
”Apa yang kami lakukan ini sebagai bukti upaya melestarikan budaya agar tidak punah. Potensi budaya di desa jangan dibiarkan punah. Itu bisa dimunculkan melalui seni, dan seni pertunjukan,” tandasnya. (ian/mg7/adi/wa) Editor : Tri Wahyu Cahyono