Mahasiswa Jurusan Pedalangan Yuda, terusik dengan goyangan pargoy yang makin marak diselipkan dalam pementasan wayang kulit. “Pargoy cenderung sensual. Padahal pergelaran wayang kulit punya nilai pitutur luhur. Sangat tidak pas (pargoy) tampil bersama wayang kulit,” tegasnya.
Tidak kalah kritis sorotan dari Citra. Dia menyoroti stigma penari laki-laki di Batang, Jateng. “Karena gerakan tarinya gemulai, para penari laki-laki dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat,” ungkapnya.
Respons mahasiswa terhadap dinamika kesenian tradisional tersebut akan dituangkan lewat artikel ilmiah populer yang segera diterbitkan di Jawa Pos Radar Solo.
Peserta workshop Natalia mengaku mendapat banyak tambahan wawasan. “Pastinya senang, dapat ilmu, dapet pengalaman langsung dari teman-teman Jawa Pos Radar Solo,” ujarnya.
Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Solo Tri Wahyu Cahyono selaku pemateri, mengajak peserta lebih peka menyikapi fenomena yang terjadi di masyarakat. Sekaligus memberikan solusi konkret melalui tulisan ilmiah. “Banyak yang bisa dilakukan lewat tulisan. Karena mampu mengubah cara pandang publik ke arah yang lebih positif,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FSP ISI Surakarta Bondet Wrahatnala berharap, peserta workshop dapat mengaplikasikan materi yang telah disampaikan tim Jawa Pos Radar Solo untuk meningkatkan kemampuan menulis. (mg1/wa/dam) Editor : Damianus Bram