Adalah Annisa Firda Lestari, Putri Regita Anggraini, Alfi Rizki A'yunin, Rahmadita Irma Safitri, serta Risma Rahmawati, lima mahasiswa UNS yang berhasil memanfaatkan batang ubi jadi plester penyebuh luka. Mereka tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Riset Eksakta (PKM RE) 2022.
Risma menjelaskan, batang ubi diolah menjadi plester hidrogel antibakteri yang dilabeli Prikaiya. Diklaim dapat menyembuhkan luka diabetes melitus, yang terinfeksi bakteri staphylococcus aures.
“Komplikasi umum yang sering dialami penderita diabetes melitus (DM), salah satunya ulkus diabetik. Ini yang menyebabkan kematian pada penderita, termasuk harus diamputasi. Dari sini kami mencoba membuat inovasi, berupa plester penyembuh luka penderita DM,” terang Risma, Jumat (2/1).
Data International Diabetes Federation (IDF) menyebut, pada 2021 jumlah penderita DM di Indonesia mencapai 19,47 juta jiwa. Diperkirakan bertambah menjadi 28,57 juta jiwa pada 2045 mendatang.
Bukan tanpa alasan, Risma dkk memanfaatkan batang ubi sebagai bahan utama pembuatan plester tersebut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018, total produksi ubi kayu di Indonesia mencapai 19.341.233 ton. Namun tidak diimbangi dengan pemanfaatan batangnya.
Padahal hasil riset para ahli menyebut, batang ubi kayu mengandung 56,82 persen selulosa. Cocok digunakan sebagai plester hidrogel, dikombinasikan dengan biji pepaya muda yang memiliki kandungan antibakteri cukup tinggi.
“Hidrogel dianggap sebagai kandidat pembalut luka yang ideal. Karena memiliki permeabilitas dan biokompatibilitas cukup baik. Mampu menyediakan lingkungan yang lembab untuk menyembuhkan luka. Termasuk mengatasi kekurangan pengobatan metode tradisional,” imbuh Risma.
Tim PKM RE UNS berharap, keberadaan plester Prikaiya ini bisa menjadi alternatif pengobatan. Sebagai pengganti plester konvensional yang saat ini betebaran di pasaran. Apalagi khasiat plester ini cukup mumpuni.
Risma mengklaim hidrogel yang ada dalam plester tersebut, lebih cepat dan efektif menyembuhkan luka pada kulit. Termasuk diabetes. Sekaligus sebagai upaya untuk mengurangi limbah batang ubi kayu.
“Semoga plester ini mampu meningkatkan nilai ekonomis dari limbah batang ubi kayu. Termasuk biji pepaya muda, yang ketersediaannya sangat melimpah di Indonesia,” ungkap Risma. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram