"Dulu, kita pernah dijajah 350 tahun di dunia nyata. Jangan sampai di dunia siber ini terulang hal yang sama. Maka untuk itu kami memberikan kesadaran melalui literasi. Bahwa di ruang siber nilai-nilai budaya, berbangsa, bernegara kita harus tetap dijaga dan dipelihara. Pancasila harus selalu menjadi pedomam dalam kehidupan kita, benar-benar diaplikasikan," tegas Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Hinsa Siburian di hadapan ratusan siswa SMKN 2 Surakarta di halaman sekolah setempat, Selasa (13/12).
Dalam kegiatan literasi bertajuk Jaga Ruang Siber ini, Hinsa menjelaskan jenis serangan yang jamak terjadi di ruang siber ada banyak hal. Pertama, serangan bersifat teknikal. Yakni mengancam sistem elektronik. Mulai dari smartphone, sistem perkantoran, bahkan objek vital nasional bisa diserang melalui malware di ruang siber. Kedua, serangan bersifat sosial. Menyerang persona manusia yang berinteraksi di ruang siber.
"Ada yang namanya propaganda, berita bohong, itu semua bisa mempengaruhi pikiran manusia. Makanya kalau di ruang darat, laut, udara kita diamankan oleh TNI. Lalu Kepolisian Republik Indonesia untuk mengatur ketertiban kita. Nah, untuk mengamankan ruang siber ini dikoordinasikan oleh Badan Siber dan Sandi Negara. Ancaman di dunia siber itu tidak dikategorikan sebagai ancaman nonmiliter atau militer. Tapi disebut ancaman hybrid. Bisa mengancam kontrol informasi, kemudian spionase, dan sabotase," bebernya.
Hinsa menekankan pentingnya literasi di ruang siber bagi masyarakat. Khususnya di kalangan para pelajar. Agar mereka sadar adanya ancaman-ancaman tersebut. Dia mengambil contoh, di dunia nyata, ada istilah taktik devide et impera pada masa penjajahan. Taktik ini bisa saja dilakukan di ruang siber lantaran masifnya informasi yang diterima masyarakat sebagai pengguna ruang siber.
"Jadi kesadaran itu yang sebenarnya ingin kami bangun. Terutama sangat efektif melalui pelajar. Karena ruang siber ini dunia baru. Harus diberikan pemahaman supaya bisa beradaptasi. Baik dari sisi budaya dan sebagainya. Termasuk mencari ilmu pengetahuan dan teknologi di ruang siber juga perlu literasi," sambungnya.
Sementara itu Kepala SMKN 2 Surakarta Sugiyarso mengapresiasi agenda literasi ini di kalangan pelajar SMK. Mengingat beberapa kompetensi keahlian SMK langsung berkaitan dengan ruang siber. Sebut saja, teknik komputer jaringan, dan rekayasa perangkat lunak.
"Agenda ini memberikan banyak ilmu tentang ruang siber kepada para siswa. Sehingga pengetahuan tentang ruang siber bisa lebih terstruktur. Harapannya para siswa bisa memanfaatkan ruang siber secara produktif dan lebih bijaksana," pungkasnya. (aya/nik/dam) Editor : Damianus Bram