Namun hal itu tidak berlaku bagi mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Pasalnya saat ini, Fakultas Seni Pertunjukan memberikan memberikan kemudahan bagi mahasiswa untuk lulus tanpa harus menyusun skripsi atau tugas akhir. Syaratnya, apabila mahasiswa mempunyai publikasi dalam jurnal nasional, terakreditasi minimal SINTA 3 dan memiliki prestasi nasional maupun internasional.
Bidang III Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta Dr. Bondet Wrahatnala menuturkan rekognisi atau pengakuan kesetaraan tersebut berlaku mulai tahun ini. Pengakuan kesetaraan skripsi ataupun tugas akhir mahasiswa dengan jurnal ilmiah ini, dapat berlaku jika mahasiswa adalah penulis pertama dan telah terpublikasi.
Bondet menjelaskan, rekognisi itu berlaku asalkan ada tiga hal. Pertama artikel tersebut termuat di jurnal terakreditasi minimal SINTA 3, kedua, tulisannya dimuat di prosiding internasional terakreditasi. Dan ketiga bisa juga mahasiswa yang lolos seleksi dan kompetisi nasional maupun internasional dalam bidang akademik maupun non akademik.
“Bagi yang memiliki prestasi nasional dan internasional tidak harus SINTA 3 atau 2, bisa ke jurnal yang lebih rendah lagi. Asalkan memiliki prestasi minimal di tingkat nasional, mereka sudah mendapatkan tiket lulus,” imbuhnya
Diharapkan program tersebut dapat memfasilitasi mahasiswa untuk mempersingkat masa studinya. Dengan catatan, sepanjang project atau tugasnya memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta, maka hal itu dapat digunakan sebagai pengganti skripsi.
“Kemarin kami juga telah mendata prestasi mahasiswa dari tahun 2020, hingga saat ini. Itu ada sekitar 50 mahasiswa. Ada tiga mahasiswa yang sudah kami nyatakan lulus yakni tiga mahasiswa yang mendapatkan prestasi medali emas di PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) tahun lalu,” ungkapnya.
Sementara itu Wakil Dekan I FSP ISI Surakarta Isa Ansari menambahkan, melalui program rekognisi prestasi yang dimiliki mahasiswa ini, nantinya dapat dikonversikan ke dalam bentuk tugas akhir maupun dalam nilai SKS. Bagi mahasiswa yang sudah memiliki tiket lulus dengan tiga syarat tersebut, tidak diwajibkan untuk menyusun proposal skripsi.
“Dengan adanya rekognisi tersebut, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta memberikan peluang pada mahasiswa yang memiliki prestasi apapun, dan akan kami akui secara akademis,” tegasnya.
Isa Ansari menjelaskan, bagi mahasiswa yang memiliki prestasi juga dapat direkognisi dalam nilai mata kuliah. Artinya mahasiswa tidak perlu lagi mengikuti mata kuliah dan dijamin mendapatkan nilai minimal A-. Dengan syarat minimal harus memiliki prestasi minimal tingkat nasional dalam bidang apapun.
“Ini kami lakukan supaya mahasiswa tidak takut dengan prestasi yang dimilikinya tidak diapresiasi. Jika mereka memiliki prestasi dalam bidang apapun bisa kami rekognisi ke akademik. Tujuannya agar mahasiswa bisa berprestasi dalam bidang apapun,” tandasnya.
Sementara itu salah seorang mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta Septa Dwi Saputro menyambut gembira adanya program tersebut. Program rekognisi menjadi angin segar baginya yang merupakan mahasiswa angkatan akhir dengan segudang prestasi. Prestasi yang dimiliki Septa Dwi, salah satunya mampu menyabet medali emas dalam Kejuaraan Pencak Silat Internasional Championship 4 “Bandung Lautan Api” 2023, di GOR Futsal ITB Bandung, 7-8 Januari. Dengan prestasi yang dimilikinya dia dapat lulus tanpa harus menyusun skripsi.
“Program ini sangat membantu saya dalam mempercepat kelulusan. Kalau dulu mahasiswa yang punya prestasi hanya dapat pembinaan saja. Tetapi sekarang dengan adanya program rekognisi ini, prestasi kami sangat diapresiasi dan bisa membantu dalam hal mempercepat kelulusan,” ungkapnya. (ian/nik/dam) Editor : Damianus Bram