Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Bisa Jadi Langkah Antisipasi Pernikahan Dini, Namun Pendidikan Seks Masih Dianggap Tabu

Damianus Bram • Kamis, 26 Januari 2023 | 15:40 WIB
Ilustrasi: Pendidikan seks kepada anak sebaiknya dilakukan sejak dini. (Shutterstock)
Ilustrasi: Pendidikan seks kepada anak sebaiknya dilakukan sejak dini. (Shutterstock)
RADARSOLO.ID – Pengetahuan mengenai pendidikan seks sedari dini masih rendah. Jika pendidikan seks tidak diajarkan sedari dini pada saat anak-anak, tentunya bisa membuka potensi besar kemungkinan akan terjadi pergaulan bebas. Mulai dari seks bebas, pemerkosaan, hamil di luar nikah, aborsi, hingga pelanggaran-pelanggaran nilai-nilai moral lainnya.

Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi sekolah, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan tentunya orang tua.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Surakarta mendata, tahun lalu terdapat 101 anak yang mengajukan pernikahan dini. Berbagai alasan diajukan, mulai dari karena hamil di luar nikah, anak sudah lahir, atau anak beralasan sudah siap untuk menikah. Tingkat pendidikan mereka pun hanya sampai jenjang SMA, bahkan ada yang masih duduk di bangku SD.

“Dari 101 itu yang hamil duluan ada sebanyak 75 anak. Enam lainnya sudah lahir duluan, dan mayoritas masih sekolah. Faktor yang kami temukan di lapangan memang paling banyak, mereka mengaku tidak memahami sex education,” ujar Psikolog Pelayanan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) DP3AP2KB Surakarta Ranita Widyawati, Selasa (24/1/2023).

Selain minimnya pengetahuan dari para remaja, pengawasan orang tua  juga kurang. Pengaruh penggunaan media sosial yang tidak semestinya juga menjadi salah satu faktor pemicu nilai-nilai moral negatif pada sang anak tumbuh. Kalau tidak diantisipasi, bisa menimbulkan anak terjerumus pergaulan bebas. Ini bisa memunculkan tindakan asusila maupun sek bebas di luar nikah.

“Pernah beberapa kami ajak ngobrol (pelajar, Red), dia mengaku tidak tahu kalau berbuat seperti itu akan hamil. Mungkin bagi kita itu sepele, tetapi bagi orang yang benar-benar tidak tahu itu pasti berdampak fatal,” imbuhnya.

Ranita mengakui, ada sebuah dilema yang dirasakan orang tua juga. Khususnya karena terikat dengan budaya orang-orang timur. Mengingat membicarakan masalah seksualitas adalah sesuatu yang tabu dan tertutup di Indonesia. Maka dari itu, sudah waktunya orang tua menyadari perannya untuk memberikan pendidikan seks bagi anak-anaknya.

“Upaya yang kami lakukan untuk meminimalisir hal tersebut terjadi, yakni dengan melakukan gerakan sosialisasi sex education ke sekolah-sekolah, hingga ke kelurahan. Kami juga ada duta genre yang untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya sex education, ” jelasnya.

Ranita menyebutkan banyak dampak negatif dari pernikahan dini. Diantaranya, kematangan emosi dan sosial anak yang belum sepenuhnya matang. Sering kali ini akan menimbulkan KDRT maupun perceraian.

Dari segi kesiapan fisik, pernikahan dini juga akan menimbulkan stunting. Dari sisi kesiapan ekonomi anak juga masih belum sepenuhnya siap, khususnya untuk mencukupi kebutuhan anak dan keluarga kecilnya. Kebanyakan, anak yang mengajukan pernikahan dini memiliki latar belakang keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah.

“Maka saat ada yang mengajukan konsultasi pada kami, mereka kami berikan bekal bagaimana mengontrol emosi dan sosialnya. Mereka juga minim sekali pengetahuannya tentang hak dan kewajiban dalam berkeluarga dan pemahaman tentang peran gender. Jadi menikah itu memang harus benar-benar siap,” jelas Ranita.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Surakarta Abdul Haris Alamsah mengakui, pendidikan seks seharusnya diberikan dalam satu program khusus. Namun hal ini akan banyak menimbulkan penolakan.

Solusi untuk mengatasi ketidaktahuan remaja tentang masalah seksualitas adalah dengan pemberian informasi secara langsung. Masalah informasi kesehatan reproduksi pada remaja, bisa dimasukkan di dalam kurikulum sekolah.

”Memang tidak ada program khusus untuk materi pendidikan seks, karena itu masih sangat dianggap tabu. Maka caranya kami masukkan pembelajaran pendidikan seks itu dalam pelajaran organ reproduksi, atau kegiatan penanaman karakter pada siswa. Paling sering, biasanya diberikan saat MOS pada awal masuk sekolah,” paparnya.

Permasalahan ini juga masih menimbulkan pro kontra. Pihak pro akan menyatakan bahwa informasi tentang kesehatan reproduksi harus dikomunikasikan kepada para siswa. Ini diharapkan agar menjadi benteng remaja dalam mencegah perilaku seks bebas. Sementara pihak yang kontra khawatir jika informasi tersebut sampai ke remaja, justru akan mendorong remaja untuk meniru, atau bahkan melakukan seks bebas.

“Maka salah satu caranya dengan memasukkan pelajaran pendidikan seks pada mata pelajaran dan kegiatan-kegiatan khusus lainnya. Karena ini memang penting dipahami oleh anak sejak dini, bukan lagi hal yang tabu” tegasnya. (mg5/ian/nik) Editor : Damianus Bram
#Dinas Pendidikan Kota Surakarta #seks bebas #DP3AP2KB Kota Surakarta #Pendidikan Seks #pernikahan dini #pergaulan bebas