Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Pentingnya Assesmen ABK, IQ di Bawah 70 Berat Masuk Inklusi

Damianus Bram • Rabu, 1 Februari 2023 | 14:40 WIB
ASAH KREATIVITAS: Mural yang melibatkan ABK dari SLB di eks Karesidenan surakarta, belum lama ini. Sebelum masuk sekolah, sebaiknya ABK jalani assesmen. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
ASAH KREATIVITAS: Mural yang melibatkan ABK dari SLB di eks Karesidenan surakarta, belum lama ini. Sebelum masuk sekolah, sebaiknya ABK jalani assesmen. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID – Setiap orang tua menginginkan layanan pendidikan terbaik bagi buah hatinya. Tak terkecuali anak berkebutuhan khusus (ABK) atau penyandang disabilitas. Salah memilih sekolah, akan berdampak fatal bagi tumbuh kembangnya. Maka, orang tua harus jeli sebelum menyekolahkan anaknya.

Banyak orang tua yang memiliki mindset, menyekolahkan ABK sebaiknya di satuan pendidikan umum. Supaya ABK mudah bersosialisasi dengan anak normal seusianya. Namun, orang tua juga harus tahu. Banyak kriteria yang harus dipahami, sebelum memasukkan anaknya ke sekolah inklusi maupun sekolah luar biasa (SLB).

Inilah pentingnya assesmen tes IQ bagi ABK, sebelum memasuki dunia sekolah. Menurut Humas Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (PLDPI) Kota Surakarta Syarifudin Amrullah, tiap anak memiliki hak mengenyam pendidikan. Termasuk ABK.

Namun sebelum itu, orang tua wajib tahu hambatan apa yang dialami ABK. Baik fisik, motorik, mental, dan perilakunya.

“Orang tua harus siap dan paham apa saja kebutuhan anaknya. Tidak benar jika orang tua memaksa masuk sekolah inklusi, padahal anaknya tidak siap. Lebih baik diassesmen atau dites dulu. Tes IQ sangat memengaruhi penempatan anak. Apakah nanti bisa masuk sekolah inklusi atau SLB,” ujarnya, kemarin (31/1).

Amrullah menambahkan, kriteria ABK masuk sekolah inklusi, di antaranya memiliki kecerdasan intelektual atau IQ minimal 70. Termasuk memerhatikan kondisi fisik, serta sifatnya yang mudah tantrum atau agresif dan destruktif.

Jika ABK tidak mampu merespons secara langsung, maka memerlukan guru pendampingan khusus (GPK). Serta mampu berkomunikasi dua arah dan bersosialisasi dengan baik.

“Jika IQ di bawah 70, berat kalau masuk sekolah inklusi. Walaupun sudah diadaptasi dari segi kurikulum maupun yang lainnya. Jika dipaksakan, sekolah akan kebingungan. Karena sekolah juga belum siap mendidik anak itu,” imbuhnya.

Tenaga pendidik SLBN Surakarta Musowir menyebut, ada lima jenis hambatan yang dapat ditampung. Mulai dari hambatan penglihatan, pendengaran, berpikir, fisik, dan autis. Jumlah siswa di kelas juga di bawah sekolah inklusi.

“Satu kelas maksimal lima siswa. Jadi satu guru memegang lima siswa. Kelas SLB tidak bisa banyak-banyak rombel (rombongan belajar). Karena tidak akan efektif,” ujarnya.

Sebelum masuk SLB, siswa harus menjalani assessmen di psikolog. Nantinya, hasil assesmen akan digunakan untuk pemetaan pendidikan. ABK yang IQ-nya di bawah 25, diarahkan mendaftar di balai atau yayasan khusus untuk menjalani terapi. Sedangkan ABK yang IQ-nya di atas 70, diarahkan ke sekolah inklusi.

“Anak yang memiliki IQ di bawah 25, masuk kategori berat. Akan kesulitan masuk ke SLB. Baik itu dari segi guru maupun siswanya. Kalau IQ 70 ke atas, diarahkan mendaftar ke sekolah reguler berpredikat inklusi,” pesannya.

Setali tiga uang, guru SLB C-YPSLB Surakarta Adriana menjelaskan, hasil assesmen digunakan untuk mengelompokkan siswa. “Kami kelompokkan sesuai kelas masing-masing. Ada yang dari umurnya. Ada juga siswa kelas III pindahan, yang tidak bisa mengikuti pembelajaran di sekolah umum,” bebernya. (mg7/ian/fer) Editor : Damianus Bram
#Anak Berkebutuhan Khusus #abk #Assesmen ABK #SLB #Sekolah Luar Biasa #Sekolah Inklusi