Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

SMK Warga Jadi Sekolah Pusat Keunggulan: Bekali Skill dan Karakter Siswa Tangguh

Damianus Bram • Kamis, 16 Maret 2023 | 15:50 WIB
TERLATIH: Siswa SMK Warga mengikuti uji kompetensi keahlian yang melibatkan industri dengan mengoperasikan mesin CNC milling, Rabu (15/3/2023). (TRI WAHYU CAHYONO/RADAR SOLO)
TERLATIH: Siswa SMK Warga mengikuti uji kompetensi keahlian yang melibatkan industri dengan mengoperasikan mesin CNC milling, Rabu (15/3/2023). (TRI WAHYU CAHYONO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Memang tidak ada jaminan ketika lulus dari SMK Warga, siswa bakal cepat mendapatkan pekerjaan sesuai keahlian. Namun faktanya, banyak perusahaan yang malah tak kebagian tenaga ahli dari lulusan SMK setempat.

Darmanta, kepala SMK Warga tak memungkiri, secara nasional, lulusan SMK merupakan penyumbang pengangguran. “Di Indonesia ini kan banyak SMK yang belum didukung dengan perlengkapan memadai dan hubungannya dengan industri kurang, sehingga mengakibatkan lulusan kurang berkompeten di dunia usaha dunia industri (DUDI),” bebernya, Rabu (15/3/2023).

Nah di SMK Warga, telah memiliki sarana prasarana pendukung kegiatan belajar mengajar yang mencukupi guna membekali siswa agar memiliki kompetensi di DUDI.

SMK Warga memiliki bursa kerja khusus (BKK) untuk menjembatani siswa dengan DUDI. “Sekolah kami menjalin kerja sama cukup banyak dengan industri. Termasuk menyediakan satu kelas industri. Mereka yang lulus dari kelas industri ini langsung bisa direkrut perusahaan,” jelas dia.

Tidak hanya itu, SMK Warga dipercaya oleh pemerintah menjadi sekolah pusat keunggulan, salah satunya terkonsentrasi pada program teknik pemesinan.

Lewat beragam program tersebut, SMK Warga sukses mencetak lulusan yang banyak dibutuhkan perusahaan. “Perusahaan, khususnya di bidang pertambangan, kalau membutuhkan karyawan, jujuk­-nya ke SMK Warga,” ungkapnya.

Dilihat dari persentase kebutuhan karyawan perusahaan dengan lulusan dari SMK Warga, lanjut Darmanta, tidak sebanding. Setiap tahun, sekolah setempat hanya meluluskan sekira 300 murid, sedangkan yang dibutuhkan perusahaan lebih dari itu.

Kenapa tidak menambah kuota siswa baru? Darmanta menuturkan, kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas. Artinya, memiliki banyak murid namun pengawasan dan pembekalan skill mlempem, bukan hanya bisa merugikan sekolah, tapi juga siswa. Mengorbankan kompetensi mereka.

Kualitas lulusan SMK Warga yang tersebar di tiga kompetensi keahlian, yakni teknik pemesinan, teknik kendaraan ringan (TKR), dan teknik elektronika industri tak luput dari profesionalitas tenaga pendidik. Kemampuan mereka selalu di-upgrade lewat berbagai pelatihan.

Apakah perusahaan yang merekrut alumni SMK Warga merasa sudah puas? “Tingkat kepuasaan tidak diucapkan. Tapi mereka (perusahaan), bolak-balik merekrut siswa kami,” ucap Darmanta.

Disamping membekali dengan keterampilan yang dibutuhkan DUDI, murid SMK Warga selalu dididik untuk disiplin. Itu guna membentuk mental karakter yang tangguh. Termasuk menanamkan kemandirian, serta toleransi.

Keunggulan SMK Warga dibandingkan SMK lainnya adalah adanya program garansi kompetensi. Dalam program ini, alumni yang telah menyelesaikan kontrak kerjanya dan ingin menekuni kompetensi lainnya, bisa kembali menempuh pembelajaran di sekolah setempat secara gratis.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMK Warga Wahyudi Riyanto menambahkan, di sekolahnya terdapat kelas industri kompetensi base education training. Siswa dari semua jurusan boleh mendaftar di situ. Mereka direkrut sejak kelas XI dan kerap dibutuhkan perusahaan pertambangan berskala besar sebagai mekanik alat berat.

“Ini merupakan ikatan dinas. Jadi sebanyak 30 anak kelas XI ini setelah lulus langsung bekerja,” Jadi tidak perlu bingun lagi mencari kerja,” terangnya.

SMK Warga juga dipercaya sebagai lokasi uji kompetensi perusahaan alat berat terbesar di Indonesia. Termasuk melatih karyawan dari perusahaan terkait.

Kelas lainnya, cenderung ke kewirausahaan. Jadi tidak hanya bekerja, tapi mencari peluang untuk menarik tenaga kerja. Kelas ini menggandeng perguruan tinggi untuk melakukan riset dan membuat produk.

“Produk kita berupa palu tembaga yang diberi nama palu Allugoro sudah menjadi produk nasional dan diakui perusahaan. Tiap tahun ditarget 2.500 piece per tahun,” tuturnya.

Sebelum adanya palu Allugoro, untuk mendapatkan palu tembaga, perusahaan pertambangan harus impor, tapi ternyata bisa digarap anak SMK setelah melalui riset selama satu tahun.

“Belum ada SMK di Indonesia yang membuat palu tembaga ini. Kami melakukan riset sampai ke Kalimantan. Kenapa berbahan tembaga? Tembaga itu tidak mudah pecah tapi penyok. Nah jadi cukup aman untuk memukul part di alat berat. Sebab ketika part-nya rusak karena dipukul, maka indennya lebih lama, lebih mahal, produksi bisa berhenti,” urainya.

Tahun ini, imbuh Wahyudi, SMK Warga menjalin kerja sama dengan Takayama College, sekolah vokasi di Jepang lewat program beasiswa. Sebanyak 20 Siswa direkrut sejak kelas XI diberikan materi pelajaran Bahasa Jepang secara gratis.

Terkait program garansi kompetensi, Wahyudi menyebut, hanya tersedia di SMK Warga. Siswa yang mengantongi kartu alumni bisa kembali ke SMK Warga untuk belajar kompetensi lainnya. Misalnya, saat sekolah masuk Teknik Pemesinan dan ternyata ingin buka usaha bengkel motor, alumni bersangkutan dapat kembali memperdalam ilmu perbengkelan di sekolah setempat. Layanan tersebut diberikan secara gratis.

Lebih lanjut dijelaskan Wahyudi, untuk ujian kompetensi keahlian (UKK), SMK Warga langsung menggandeng industri. Ketika lulus, sertifikat yang didapat berkelas internasional.

“Sertifikat tersebut sudah dikenali industri manapun sehingga menjadi nilai tambah kompetensi siswa. Ini yang banyak dicari industri,” tuturnya. (wa) Editor : Damianus Bram
#Lulusan SMK #bursa kerja khusus #SMK Warga #dunia usaha dunia industri #DUDI #smk