Kepala SMK Jayawisata Surakarta Suprapti menjelaskan, keberadaan pasar darurat di Lapangan Jegon berdampak signifikan bagi pembelajaran. Terutama pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK). SMK ini kebingungan mencari lokasi altenatif untuk berolahraga bagi siswanya.
“Kalau dampak pasti ada, tetapi masih bisa kami tangani. Jika biasanya anak-anak olahraga di Lapangan Jegon, sementara kami alihkan ke halaman sekolah,” kata Suprapti, Rabu (5/4/2023).
Karena halaman SMK Jayawisata lumayan sempit, alhasil praktik PJOK diarahkan untuk olahraga yang ringan. Selain itu, SMK ini juga mengusulkan kepada Pemkot Surakarta, terkait lapangan alternatif jika membutuhkan praktik PJOK dengan lahan yang luas.
“Sudah kami usulkan, tetapi jawabannya masih dicarikan solusi. Sebelum ada solusi, kami sudah antisipasi. Misalnya (praktik PJOK) dialihkan ke senam lantai atau jalan sehat, yang tidak membutuhkan lahan luas,” imbuh Suprapti.
Usulan lainnya, yakni meminta agar jalan di depan SMK dibuat searah. Terutama jika pasar darurat kelak difungsikan. Juga meminta agar tidak ada kendaraan pedagang atau pembeli pasar yang parkir di jalan tersebut.
“Semoga jalan di depan sekolah dibuat searah. Kami mohon pedagang juga tidak menggelar lapak di depan sekolah. Supaya tidak terjadi penumpukan,” pintanya.
Hal lainnya yang jadi fokus perhatian, terkait kebersihan pasar darurat. Terutama sampah. Supaya bau menyengat dari sampah, tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM).
“Namanya pasar, pasti sampahnya banyak. Itu jangan sampai mengganggu siswa kami. Prinsipnya kami mendukung kebijakan pemerintah. Namun harus diperhatikan beberapa aspek, agar tidak merugikan kami,” ujarnya.
Sementara itu, pendapat senada dilontarkan Kepala SMPN 9 Surakarta Diah Pitaloka Handriani. Mengingat letak sekolah tepat di sisi barat Lapangan Jegon.
“Memang ada dampaknya. Mungkin hanya di kegiatan praktik olahraga saja. Selebihnya masih aman,” hematnya. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram