Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Pola Asuh Tak Boleh Hyper Parenting, Orang Tua Adalah Panutan

Damianus Bram • Minggu, 16 April 2023 | 22:00 WIB
PENUH PENDEKATAN: Dalam mendidik  anak tentu tak mudah, namun juga tak sulit. Pola anak usia dini tentu berbeda-beda, tergantung karakter sang anak. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
PENUH PENDEKATAN: Dalam mendidik anak tentu tak mudah, namun juga tak sulit. Pola anak usia dini tentu berbeda-beda, tergantung karakter sang anak. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.COM - Pola asuh anak menjadi faktor pembeda dalam tumbuh kembang anak. Setiap anak memiliki potensinya tersendiri, jadi pengembangannya tentu berbeda-beda.

Suasana lingkungan sekitar, tentu bisa membuat tumbuh kembang anak berjalan dengan baik. Namun bisa juga perlu pendampingan kalau adalah hal-hal yang kurang baik mereka serap dan dapatkan dari lingkungan sekitarnya.

Komisi Perempuan dan Remaja Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sragen Isyana Darmastuti Raras Anindyasari menyampaikan pola asuh bisa diartikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orang tuanya. Meliputi kebutuhan fisik, kebutuhan psikologis, serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak bisa hidup selaras dengan lingkungannya.

”Maunya orang tua bisa bisa berhasil mendidik anak hingga sukses dan bahagia. Kenyataannya tidak semudah teori karena pada kenyataannya banyak juga yang kesulitan mendidik buah hati tercinta,” ujar wakil ketua Himpaudi Kecamatan Sragen ini.

Dia menyampaikan dalam pola asuh bisa mengganggu kepribadian anak. Pendekatan orang tua yang negatif bisa mengganggu kepribadian anak. Seperti menjadikan anak objek kekerasan atau pelampiasan amarah. Selain itu pendekatan terlalu baik juga tidak berpengaruh. Orang tua tidak bersikap tegas sehingga anak menjadi manja.

”Kendala anak dalam perkembangannya meliputi pola asuh dictator. Jadi seperti banyak tuntutan dari orang tua, faktor kekerasan verbal, hingga tekanan pada psikis maupun fisik. Selain itu anak juga terkendala dalam perkembangan seperti pengaruh gadget, dan tidak ada ketegasan dari orang tua soal apa yang dilakukan sang anak,” ujarnya.

Dia menyampaikan pola asuh yang dinilai kurang baik yakni hyper parenting, yakni penerapan pola asuh di luar kontrol. Meski dalam tujuannya orang tua memiliki maksud baik.

”Dalam pola asuh ini, orang tua hanya ingin anak terlihat sempurna dan dituntut sukses tanpa memikirkan perasaan anak,” terangnya.

Dampak bagi orang tua sendri juga tidak baik. Yakni merasa cemas jika anak tidak sesuai keinginannya. Seperti ingin memastikan anak tidak melakukan hal yang dilarang olehnya. Lantas juga ingin memastikan semua yang dilakukan anak. Jika merasa frustasi, orang tua merasa dirinya gagal jika perkembangan anak tidak sesuai keinginan.

Raras menambahkan pola asuh ini juga berdampak pada anak. Seperti anak menjadi rentan sakit dan depresi, mudah emosi yang meledak-ledak, tidak kreatif, dan tidak ekspresif. Atau bisa juga kemampuan sosial yang buruk, kehilangan waktu bermain, dan hubungan yang kaku dengan orang tua.

Dia menyampaikan bahwa orang tua adalah panutan terbesar seorang anak. Orang tua harus membuat kesepakatan peraturan bersama anak, serta tidak ragu memberikan teguran nasihat dan pujikan sesuai dengan usia anak.

”Buatlah anak tersentuh hatinya, bukan malah membuat tersinggung,” ujarnya.

Menurutnya, kemarahan tidak mengajarkan perkembangan apapun bagi anak. Justru membuat renggang ikatan batin antara anak dan orang tua. Anak merasa takut dan tidak nyaman dengan perilaku orang tua.

”Hendaknya, orang tua tidak egois, merasa dirinya saja yang benar. Karena pada prinsipnya setiap anak juga ingin mengekspresikan dirinya dengan gaya dan caranya sendiri,” pungkasnya. (din/nik) Editor : Damianus Bram
#parenting #pola asuh #orang tua #pendidikan anak #MUI Sragen