Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, menjadi kunci keberhasilan pembangunan pendidikan. Mengejar ketertinggalan kualitas SD negeri dari swasta, disdik mencoba berbagai program. Salah satunya program pelatihan dan bimbingan teknis (bimtek), bagi tenaga pendidik di sekolah negeri.
“Ini tantangan kami. Guru sekolah negeri harus mau berubah dan bergerak maju. Wajib meningkatkan kompetensi. Kami menginventarisasi kebutuhan masing-masing guru. Latihannya apa saja, nanti kami usulkan untuk diadakan pelatihan,” kata Kepala Disdik Kota Surakarta Dian Rineta.
Menurut Dian, seiring berjalannya waktu sekolah swasta kian berkibar. Tumbuh menjadi sekolah-sekolah berbasis agama yang menjadi daya tarik masyarakat. Selain itu didukung sumber pembiayaan yang lebih transparan. Membuat swasta jauh lebih leluasa dalam berkreasi, untuk meningkatkan kualitas SDM.
“Mungkin dari segi pembiayan lebih open. Boleh menerima sumbangan dan pendanaan dari luar. Ya otomatis kemampuan gurunya juga bertambah, dengan pelatihan-pelatihan lebih khusus. Maka kualitasnya lebih bagus,” imbuh Dian.
Saat ini terdapat 950 guru tenaga kontra dengan perjanjian kontrak (TKPK) alias honorer di sekolah negeri. Namun hanya 120 orang yang lolos sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Sedangkan 300 lebih posisi TKPK, diisi guru swasta.
Disdik sangat menyayangkan hal tersebut. Artinya, guru negeri kualitasnya masih di bawah swasta. Maka Dian meminta guru negeri untuk meningkatkan kualitasnya. Supaya mampu bersaing dengan guru swasta.
“Memang sudah waktunya berbenah. Artinya, kualitas (swasta) di luar sana apresiasi saya luar biasa. Pembinaan gurunya luar biasa. Ini jadi pemicu kami. Harus maju, mengambil positifnya, dan sebagai catatan kami,” beber Dian.
Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Surakarta Wahyono menyoroti penuruna kualitas sekolah negeri. Dia mengusulkan disdik harus bergerak cepat untuk mengejar ketertinggalan. Berupa memfasilitasi guru lewat pelatihan-pelatihan, yang mengarah pada penguasaan teknologi dan informasi. Diakuinya, masih banyak guru-guru yang gaptek alias gagap teknologi.
“Pelatihan-pelatihan itu perlu. Dengan pelatihan, guru dapat menciptakan pembelajaran yang lebih bervariatif. Tentu dalam hal ini akan berdampak pada kualitas pendidikannya,” ujarnya. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram