Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta Abdul Haris Alamsah mengaku prihatin, masih adanya laporan sejumlah pengawas sekolah, bahwa sedikit guru siap menjalankan IKM. Menyikapi hal tersebut, disdik akan memberikan berbagai pelatihan dan workshop. Menyasar seluruh guru agar bisa menyelaraskan IKM dalam pembelajaran.
“Masih banyak guru yang pola pikirnya, apapun makanannya, minumnya teh botol. Apapun bentuk kurikulumnya, mengajarnya tetapi sama. Masih ceramah. Padahal itu sudah tidak efektif. Mindset seperti itu yang jadi tantangan dunia pendidikan,” ungkapnya, Selasa (9/5/2023).
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Wilayah VII Jawa Tengah Suratno berharap, seluruh insan pendidikan bisa menyelaraskan IKM dalam pembelajaran. Sekolah diminta meningkatkan pemahaman terkait IKM, termasuk Projek Pembentukan Profil Pelajaran Pancasila (P5).
“Utamanya di sekolah kejuruan (SMK). Harus ada hardskill dan softskill yang bisa dimanfaatkan lulusan SMK untuk bekerja, mandiri atau berwirausaha, serta melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Lewat penerapan Implementasi Kurikulum Merdeka,” pintanya.
Terkait pandemi Covdi-19 lalu, Suratno menyebutkan ada sisi positif dan negatif yang dirasakan dunia pendidikan. Sisi positifnya, pendidikan jauh lebih mudah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi (IT).
“Adanya pandemi, guru dan siswa mau tidak mau harus menghadapi itu. Namun dari segi pendidikan karakter, sedikit berubah dan cenderung menurun,” bebernya.
Suratno menilai IKM efektif diterapkan untuk sistem pendidikan saat ini. Dia mendorong para guru SMA/SMK untuk meningkatkan kompetensinya. Melalui program guru penggerak. Maka otomatis pemahaman guru terkait IKM lebih bagus.
“Kami akan selalu meningkatkan pelayanan dan mutu pendidikan, khususnya di Kota Surakarta. SDM guru ditingkatkan. Fasilitas pendidikan ditingkatkan. Kalau kurikulumnya, masih mengacu Kurikulum Merdeka. Tidak kalah penting di SMK ada kurikulum berbasis industri,” bebernya. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram