“Sejak pagi tidak bisa masuk karena server down. Ini terjadi di seluruh Indonesia, karena server di pusat memang belum bisa diakses,” ujar Domi Prakosa, pengawas UTBK SNBT khusus disabilitas di Universitas Sebelas Maret.
Domi menjelaskan, ada sedikit perbedaan pelaksanaan UTBK SNBT untuk peserta disabilitas. Selain dari segi sarana prasarana dia memperkirakan jumlah soal juga berbeda dengan siswa pada umumnya. Di pusat UTBK SNBT UNS terdapat dua peserta disabilitas. Keduanya merupakan siswa dengan penyandang tunanetra.
“Keduanya ini masuk ke kelompok disabilitas slow vision. Mereka sebenarnya masih bisa melihat tapi tidak sempurna dan membutuhkan alat bantu untuk mengerjakan soal-soal UTBK SNBT,” imbuhnya.
Fasilitas yang disediakan untuk peserta disabilitas yakni alat reglet. Reglet sendiri merupakan sebuah teknologi paling tua yang diciptakan untuk membantu komunikasi bagi penderita tunanetra. Saat proses pengerjaan soal UTBK SNBT peserta juga dilengkapi dengan voice over atau VO untuk membantu para peserta membaca soal.
“Kalau hanya mengandalkan penglihatan saja mereka pasti akan kesulitan dan lama untuk menyelesaikan. Maka ini kami sediakan voice over atau VO untuk membantu peserta menjawab soal,” ungkapnya.
Salah seorang peserta UTBK SNBT Muhammad Rizqi Yusup mengatakan, telah datang di UNS sejak pukul 04.00 untuk mengikuti UTBK yang dimulai pukul 07.00. Namun, lantaran adanya masalah server down, dia harus menunggu lama hingga pukul 10.00 agar bisa mengikuti tes UTBK.
Peserta UTBK-SNBT asal Tegal tersebut mengaku, telah mempersiapkan sebulan lebih agar dapat mengikuti SNBT di UNS. Dia mengambil Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) FKIP UNS. Alumni SMA LB 1 Pemalang tersebut juga mengaku sudah datang ke Solo satu hari sebelum pelaksanaan UTBK-SNBT.
“Saya datang dari Tegal ke solo Naik kereta diantar keluarga. Mereka juga ikut ke sini (UNS) menunggu sampai selesai,” ungkapnya.
Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNSAhmad Yunus mengatakan, ada enam peserta tunadaksa yang mengikuti UTBK SNBT di UNS. Mereka mengikuti UTBK dengan peserta pada umumnya. Meski memiliki keterbatasan, mereka sangat semangat mengikuti ujian.
“Sebenarnya ada enam peserta tunadaksa, tapi mereka tidak ikut disabilitas. Mungkin karena mereka merasa bisa mengikuti UTBK secara normal seperti teman-teman yang lain. Tidak apa-apa tetap kami fasilitasi dan dampingi,” ujarnya. (ian/bun/dam) Editor : Damianus Bram