Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Pentingnya Bangun Komunikasi dengan Buah Hati: Anak Juga Butuh Didengar

Damianus Bram • Minggu, 21 Mei 2023 | 20:00 WIB
BERCENGKRAMA: Ketika anak sedang emosional, orang tua perlu memahami isi hati si kecil. Tenangkan diri sebelum membalas emosi tersebut. (DITE SURENDRA/JAWA POS)
BERCENGKRAMA: Ketika anak sedang emosional, orang tua perlu memahami isi hati si kecil. Tenangkan diri sebelum membalas emosi tersebut. (DITE SURENDRA/JAWA POS)
RADARSOLO.COM - Sekolah pertama bagi anak adalah orang tua. Proses transfer ilmu dan adab melalui medium komunikasi serta pola asuh.

Orang tua harus menyediakan ruang lebih untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak. Setelah itu, chemistry akan terbangun. Namun, jika orang tua gagal memahami, komunikasi dan pola asuh yang salah akan membuat anak jadi liar.

Psikolog anak Jaka Daryana mengatakan, kerap kali menemui orang tua dan anak yang tidak sejalan. Tapi efeknya terjadi miskomunikasi, mispersepsi, dan hilangnya chemistry.

Ada beberapa faktor yang membuat komunikasi antara orang tua dan anak tidak bisa ketemu. Pertama, faktor karena orang tua merasa dia lebih pintar, sehingga mengkerdilkan peran anak.

"Kedua orang tua gak paham psikologi tentang anak. Ketiga, orang tua tidak mau mendengar. Nah, tiga ini yang sering terjadi. Karena banyak anak-anak itu maunya didengar, tapi orang tua gak mau mendengar. Ya sudah kamu ngomong aja, udah selesai, iya gitu tok (jawabannya, Red). Tapi anak kan mau didengar," jelasnya saat ditemui di SDIT Arofah, Boyolali Kota, Jumat (19/5/2023).

Miss komunikasi bisa muncul karena sikap orang tua yang acuh karena alasan sibuk. Ataupun merasa inferior sehingga meremehkan apa yang diungkapkan anak. "Anak curhat ke saya seperti ini biasanya, kok saya ngomong sama orangtua gak bisa ya? Gak bisa gimana? Lha mereka sibuk sama dirinya sendiri. Pagi sudah sibuk kerja, nanti kalau sudah pulang kerja, mereka pulangnya malam. Saya mau ngomong saja sulit," terang psikolog asal Kartasura ini.

Selain itu, imbas dari miskomunikasi juga memunculkan ketidaktepatan kasih sayang. Banyak orang tua yang sudah memberikan kasih sayang 100 persen. Padahal anak tidak selalu ingin 100 persen. Bisa saja kadar yang diinginkan hanya separuhnya. Kadang orang tua juga menuangkan kasih sayangnya tidak tepat. Dia mencontohkan, terkadang ada anak inginnya orangtua seperti ini dan ingin membeli sendiri. Tapi orangtua tidak memberikan kepercayaan dan membelikannya. Padahal, belum tentu sesuai dengan keinginan anak.

Kemudian, pentingnya pola asuh anak. Tentu, pola asuh generasi milenial dengan alpha berbeda. Sehingga sulit ketemu. Hal tersebut membuat chemistry orang tua dan anak tidak sambung.

Orang tua tidak bisa memaksakan kehendak dengan pola asuh otoriter seperti dulu. Karena zaman sudah berbeda. Namun, jangan juga menerapkan pola asuh yang terlalu longgar. Anak terlalu dilepas atau dituruti tanpa kendali. Kedua pola asuh tersebut bisa membuat anak menjadi liar.

"Kadang orang tua lupa, punya dua telinga itu untuk mendengar. Satu bibir lebih banyak daripada dua telinga, banyak omong. Maka anak zaman sekarang ada yang merasa tidak disayangi. Mendengar itu harusnya orang tua mau. Sibuk, semua juga sibuk tapi tetap mau mendengar. Ketika orang tua tidak bisa masuk di komunikasi, akhirnya chemistry-nya gak jalan," terangnya.

Pola asuh yang tepat seperti menarik karet. Jika perlu ditarik maka ditarik. Jika perlu dikendorkan bisa memberikan ruang bagi anak. Perlu juga menyiapkan pola asuh yang tepat sesuai zamannya.

Ketika terjadi miskomunikasi, tak ada chemistry dan anak menjadi liar, Jaka menyebut hal tersebut masih bisa diperbaiki. Yakni mengajarkan adab, etika dan agama. Orang tua harus memberikan contoh akan adab, etika dan agama. Bukan malah menyerahkan tugas mendidik pada sekolah saja.

"Sekolah bukan bengkel seperti bengkel motor. Apalagi pondok pesantren (ponpes), anak nakal kaya apa ditaruh ponpes selesai. Orang tua tinggal pulangnya tiga bulan sekali, selesai. Apakah ini kasih sayang yang diperlukan anak? gak juga. Apakah ke ponpes gak boleh? Boleh, tapi kasih sayang orang tua harus mendampingi. Karena apa, kenapa banyak anak ponpes juga liar? Karena itu tadi, apa bisa adab diberikan dalam waktu satu minggu? Adab itu diperlukan contoh, ya orang tua, masyarakat di sekitar kita," tegasnya.

Jika chemistry bisa terbangun anak akan beretika, beradab dan agamanya kuat. Dewasa ini banyak ditemui orang beragama namun, tak beradab dan beretika. Maka penanaman adab dahulu, etika, baru agama. Bukan dalam artian mengkerdilkan agama, tapi ajarkan tentang adab. Contohnya adab membaca Alquran atau Kitab Suci seperti apa, bukan dengan tiduran ataupun duduk tidak sopan. Menurutnya, munculnya kasus bullying di sekolah ataupun ponpes karena tidak adanya adab.

"Harusnya kan, sekolah-guru sama orang tua kan satu irama. Oh, sekolah seperti ini, orang tua melanjutkan. Oh, orang tua seperti ini, sekolah melanjutkan. Tapi apa yang terjadi, ada yang terpotong di tengah. Orang tua bisa menanyakan bagaimana aktivitas anak di sekolah, apa yang diajarkan oleh guru, dan dilanjutkan oleh orang tua di rumah. Bisa respons, gurunya nyenengin semua ya? Itu doktrin dari kita agar anak menghargai. Bukan sebaliknya," bebernya.

Dia melihat ada pembiaran yang tidak ketara. Mengkerdilkan peran orangtua. Membesarkan peran guru, sekolah ataupun ponpes. Jaka menegaskan, madrasah pertama anak itu orang tua. Sepandai-pandai kyai, ponpes itu lebih pandai orang tua. Jadi moms, persiapkan sejak dini pola asuh anak. Menjaga komunikasi berjalan dengan baik tanpa terlalu otoriter. Dengan begitu, chemistry dengan anak akan terbangun. (rgl/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#pola asuh #komunikasi #komunikasi dengan anak #pendidikan anak