Sebanyak 1.000 liter eco-enzyme karya mahasiswa akan disumbangkan untuk program penjernihan air sungai. Cairan ini berasal dari kulit buah dan bahan organik, serta gula yang diekstrak. Penjernihan air akan dilakukan serentak yang akan dipimpin langsung oleh Kementrian Lingkungan Hidup Indonesia secara hybrid dan diikuti masing-masing kampus di Indonesia.
Ketua Solusi Limbah Kampus Nasional Pranoto menuturkan, penjernihan air dengan eco-enzim dilakukan dengan beberapa tahap. Tahap Pertama, aliran air sungai atau danau dapat dibersihkan terlebih dahulu dari sampah. Dilanjutkan dengan penaburan tawas untuk mengendapkan koloid. Baru kemudian diberikan eco-enzim.
“Eco-enzim ini berfungsi sebagai penjernih dan pengurai zat berbahaya dalam sungai. Di samping itu juga bisa sebagai pembunuh hama dan pupuk. Harapannya dengan penjernihan air ini, bisa meningkatkan kualitas hidup yang tercermin dari air danau yang bersih,” ucapnya.
Sementar itu, Kepala Dewan Profesor UNS Prof. Drs. Suranto Tjiptowibisono menuturkan, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada air bengawan Solo. Ditemukan bahwa air sungai bengawan Solo masih banyak mengandung zat estradiol. Zat estrogen memiliki peran penting dalam segala tahap kehidupan wanita, mulai dari pubertas, menstruasi, kehamilan, hingga menopause.
“Jika kemudian air ini digunakan sebagai modal air PDAM bisa berpengaruh pada percepatan kedewasaan perempuan. Jika biasanya wanita bisa haid umur 15, bisa jadi 113-12 sudah haid,” ucapnya.
Berdasarkan hal tersebut, dengan adanya fasilitas eco-enzyme yang di treatment dengan tawas untuk kualitas air yang lebih bagus. Inovasi yang ada di kampus tersebut dapat dikembangkan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup.
“Kualitas air itu bisa menjadi cerminan masyarakatnya. Jika air sungai itu bersih maka sudah dipastikan kualitas masyarakatnya baik. Maka penjernihan dengan eco-enzyme ini perlu dilakukan untuk mengurai zat bahaya tersebut,” tandanya. (ian/nik/dam) Editor : Damianus Bram