Koordinator PPDB 2023 Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surakarta Abi Satoto mengatakan, meski tak banyak sekolah negeri yang menyediakan tenaga pengajar yang mampu menangani ABK, mereka tidak boleh menolak calon siswa ABK. Mereka memiliki kesempatan prioritas untuk mendaftar saat PPDB. Pembukaan PPDB jalur afirmasi untuk siswa inklusi akan dimulai pertama sebelum jalur lainnya dibuka.
“Kami dahulukan memang yang jalur afirmasi ini. Kami juga sudah sosialisasikan bahwa semua siswa ABK boleh mendaftar di sekolah negeri maupun swasta yang ada di Solo. Namun sebelum mendaftar kami arahkan untuk mengikuti asesmen di UTP Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi (PLDPI) Solo,” ujar Abi Satoto, Jumat (2/6/2023).
Hasil asesmen tersebut akan digunakan sebagai dasar bagi sekolah untuk menyiapkan apa saja kebutuhan siswa ABK. Termasuk digunakan apakah siswa tersebut dapat mengikuti pendidikan di sekolah formal pada umumnya. Disdik meminta orang tua tidak memaksa ABK untuk bisa masuk ke sekolah umum jika hasil assessment tidak sesuai.
“Kasihan anaknya nanti kalau dipaksakan. Kadang ada anak itu yang lebih bisa berkembang di SLB. Tapi pada prinsipnya kami dorong semua sekolah khususnya negeri, untuk bisa menerima siswa ABK yang ingin mendaftar,” imbuhnya,
Di lain sisi, guru memberikan pelayanan terbaik bagi siswa, khususnya bagi siswa inklusi tingkat SD dan SMP. Pemkot melalui UTP PLDPI Surakarta juga memberikan pelatihan kepada guru kelas hingga guru bimbingan konseling (BK) agar dapat menangani ABK. Bimbingan diberikan mengingat minimnya guru pendamping khusus (GPK) di Solo.
“Kami latih guru kelas menjadi GPK, karena tidak ada tenaganya kami latih yang ada dulu. Terutama SD yang tidak memiliki guru BK. Kalau SMP masih ada BK yang ilmunya masih sejalan dengan GPK,” ujar Kepala UTP PLDPI Solo Siwi Purno.
Siwi mengatakan, berdasarkan mandat dari pemkot seluruh sekolah negeri dilarang untuk menolak siswa ABK. Seluruh sekolah di dorong untuk menjadi sekolah inklusi. Pendampingan dan pengawasan siswa ABK di sekolah akan dilakukan secara berkelanjutan.
“Kalau anak itu sudah masuk ke assessment kami sebelum masuk ke sekolah. Data mereka sudah ada di kami, sehingga akan lebih mudah untuk memantau perkembangan di sekolahnya,” tandasnya. (ian/bun/dam) Editor : Damianus Bram