Pelaksanaan magang MBKM di Paracycling Indonesia dilaksanakan oleh sepuluh mahasiswa FKOR UNS, yang diketuai oleh Satputri Eka Astria. Dengan pembimbing dosen Abdul Aziz Purnomo Shidiq.
Satputri menjelaskan, paracycling adalah cabang olahraga sepeda khusus bagi atlet penyandang disabilitas. Untuk itu, jenis sepeda yang digunakan pun bermacam-macam, tergantung kondisi fisik atletnya. Setidaknya ada tiga jenis sepeda, yaitu sepeda konvensional, trike/tricycle atau sepeda roda tiga, dan handbike atau sepeda tangan.
“Ada beberapa alasan kami memilih MBKM di Cabang Olahraga Paracycling Indonesia. Pertama, kami ingin mendapatkan pengalaman dengan pembelajaran langsung di tempat kerja (experiential learning) sehingga akan lebih mantap dalam memasuki dunia kerja dan karirnya,” ujar dia.
Selain itu, para mahasiswa ingin meningkatkan hard skills dan soft skills sesuai dengan bidang keahlian. Serta ingin mempercepat transfer ilmu dan teknologi di lingkungan perguruan tinggi maupun sebaliknya.
Dijelaskan Satputri, perlombaan pada cabang olahraga paracycling umumnya berlangsung di atas dua jenis jalur, yakni trek (track) dan jalanan (road). Cabang olahraga ini juga terbagi menjadi beberapa kelas/kategori atau klasifikasi.
Klasifikasi berdasarkan pada kemampuan fisik para atlet. Pembagian klasifikasinya adalah kelas C1-C5 untuk kondisi yang dapat mengendarai sepeda roda dua, kelas T1-T2 (sepeda roda 3), kelas B/tandem (untuk gangguan penglihatan), dan H1-H5 (sepeda tangan).
Selain empat kelas di atas, dalam kondisi-kondisi tertentu sebuah perlombaan juga akan menentukan kelas baru bagi atlet peserta. Sifatnya sementara, umumnya hanya berlaku khusus dalam kompetisi tersebut.
“Selama magang, kami terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari observasi latihan hingga mengambil peran aktif dalam merencanakan dan melaksanakan sesi pelatihan. Kami akan bekerja sama dengan pelatih berpengalaman dan staf teknis tim paracycling dalam menciptakan lingkungan belajar dan latihan yang positif dan membangun hubungan kolaboratif dengan para atlet,” papar dia.
Salah satu aspek penting dalam magang tersebut adalah pembelajaran langsung tentang pengolahan data fisik, pembinaan fisik di gym, pengambilan data di velodrome maupun di jalan atau road. Mahasiswa magang akan belajar mengamati dan menganalisis kemampuan atlet, serta memberikan umpan balik yang konstruktif dan bermanfaat. Mereka juga akan mempelajari metode pelatihan yang efektif dan teknik-teknik pengembangan fisik dan mental pemain.
“Magang MBKM di Paracycling Indonesia tidak hanya memberikan pengalaman praktis yang berharga bagi kami. Tetapi juga merupakan kesempatan untuk membangun jaringan dan koneksi dalam industri paracycling,” tandas Satputri. (*/ria) Editor : Syahaamah Fikria