Dampak negatif bagi sekolah inklusif atas perundungan ini sangat berbahaya sekali bagi psikologi anak-anak. Tindakan bullying memicu masalah kesehatan mental, seperti gangguan cemas, depresi, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD).
“Bulliying ini adalah persoalan besar yang terjadi. Ini yang sedang menjadi fokus kita bagaimana melakukan pencegahan bagaimana hal itu terjadi,” ujar Pengamat Pendidikan dari Universitas Slamet Riyadi Solo Oktiana Handini.
Oktiana menegaskan, bullying bukan perkara sepele. Perundungan yang dialami korban bisa berpengaruh terhadap mentalnya dan mengganggu aktivitasnya bersekolah. Sehingga dia berharap, apapun bentuk bullying-nya bisa dicegah sedari awal. Dalam hal ini, institusi pendidikan ada kewajiban untuk mengingatkan dan mengawasi peserta didiknya selama berkegiatan di sekolah.
“Terkadang anak putus sekolah bisa juga disebabkan karena adanya indikator bullying. Dia merasa malu atau bahkan takut untuk sekolah. Maka guru juga harus peka jika ada interaksi yang berbeda di setiap anak didiknya,” imbuhnya.
Biasanya bullying ini terjadi dalam bentuk mengucilkan, mengejek, atau bahkan memalak atau meminta uang secara paksa. Mereka, anak-anak yang berkebutuhan khusus, ini jauh lebih rentan karena terlihat cukup “aneh” bagi si pembully. Mereka dinilai juga bisa menjadi peluangnya besar menjadi objek atau korban.
“Bentuk bullying atau perundungan yang salah satunya adalah school bullying atau dengan kata lain perundungan yang terjadi di sekolah maupun di luar sekolah,” imbuhnya.
Mengingat bahayanya dampak bullying, sekolah inklusi diminta secara ketat mengawasi perilaku para siswa selama proses pembelajaran. Pengawasan dan pendampingan siswa inklusi juga diperlukan untuk memfasilitasi kebutuhan siswa. Seperti halnya, di SMPN 22 Surakarta yang ditunjuk Dinas Pendidikan Surakarta sebagai salah satu sekolah inklusi.
Kepala sekolah setempat, Kristanto Tri Utomo mengatakan, sekolah dan guru bekerja lebih ekstra untuk mencegah bullying terjadi sekolah. Pihaknya menyebut anak berkebutuhan khusu memang memiliki keistimewaan sendiri sehingga harus ditangani secara istimewa. Jika terjadi masalah, seperti anak tidak mau sekolah. Maka guru secara tepat akan melakukan home visit untuk berkoordinasi dengan pihak keluarga.
“Memang di sekolah inklusi ini. Kami harus bekerja lebih ekstra peka dan pengawasannya juga harus jeli lagi. Tetapi itu kami lakukan dengan senang hati. Kami ingin anak-naka tetap terpenuhi hak pendidikannya. Selain guru, kami juga memiliki guru pendamping khusus untuk siswa ABK,” ucapnya. ‘
Pihaknya menjamin tindakan bullying tidak akan terjadi jika semua berkolaborasi untuk mendampingi dan mengawasi. Pada pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2023 ini, sekolah juga telah diamanahi tujuh siswa inklusi untuk dididik. Meski diakuinya, secara prasarana sekolah belum sepenuhnya menunjang.
“Sementara yang bisa kami tangani itu slow learner, untuk tuna daksa memang ada dulu sekarang sudah lulus. Sekolah inklusi itu tidak langsung ada, tetapi diciptakan secara bertahap. Seperti dibenahi sarprasnya dan SDM gurunya, dan kami pastikan tidak ada bullying di sekolah,” tandasnya. (ian/dam) Editor : Damianus Bram