Lima sanggar tersebut yakni Sanggar Pincuk, Sangar Ghendewa Pinanthang, Sanggar Semarak Candra Kirana Art, Sangar Girli Budaya Sejahtera, dan Sanggar Orek.
Kabid Seni Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta Tuti Orbawati menyampaikan, tujuan utama digelarnya festival ini untuk menjaga kelestarian budaya atau nguri-uri budaya. Termasuk mencari bibit seniman sejak dini. Penampil dalam Festival Wayang Bocah ini adalah siswa sekolah dari mulai TK hingga SMP.
“Jika bukan generasi muda siapa yang akan nguri-nguri budaya. Ini yang penampilanya anak-anak semua. Maksimal kelas IX SMP, karena tujuannya memang untuk nguri-uri budaya,” ucapnya
Festival Wayang Bocah menjadi awal yang baru untuk menghidupkan lagi kesenian wayang orang yang cukup ikonik di Kota Solo. Pertunjukan ini juga merupakan langkah untuk menunjukkan adanya regenerasi di antara para pelakon wayang orang.
Tuti menyebut, saat ini penikmat seni wayang orang tidak hanya generasi old saja. Generasi milenial juga mulai tertarik untuk menikmati karya seni budaya wayang, yang dipusatkan di Gedung Wayang Wong Sriwedari.
“Setiap malam banyak masyarakat yang mengajak anaknya untuk menonton wayang orang. Dari situ generasi muda mulai tertarik untuk melihat wayang orang,” bebernya.
Kesenian wayang dinilai perlu menyesuaikan diri dengan semangat dan nilai-nilai generasi muda saat ini. Hal itu agar wayang bisa dinikmati kaum muda, khususnya milenial. Jadi tanpa ada kesan bahwa wayang kuno dan tidak relevan dengan kehidupan mereka saat ini.
Penyesuaian juga dinilai penting agar peran wayang sebagai sumber nilai-nilai luhur bisa tetap hidup ke depan. “Saat ini kami sering kali mengangkat cerita-cerita yang menggelitik sehingga penonton senang dan tertarik. Bahkan ada yang mengidolakan tokoh-tokohnya. Kami sesuaikan dengan perkembangan dan selera masyarakat saat ini,” imbuhnya.
Meski begitu, pakem-pakem cerita tidak boleh ditabrak. Itu demi menjaga keutuhan nilai-nilai yang hendak disajikan. Menurutnya, festival penting untuk peneguhan wayang sebagai sumber nilai dan identitas jati diri bangsa. Tepatnya di tengah derasnya berbagai produk kebudayaan yang masuk dari luar.
“Paling utama memang untuk memancing rasa untuk mencintai seni budaya pada generasi muda. Melihat saat ini banyak sekali budaya asing yang masuk ke Indonesia, maka kami tetap menjaga pakem-pakem wayang wong ini,” katanya.
Salah seorang masyarakat, Winarti, 54, asal Sriwedari sengaja datang bersama cucunya untuk melihat wayang orang di festival ini. Dia menyebutkan cucunya yang lain tengah tampil di Festival Wayang Bocah ini. Dia ingin mengenalkan kesenian Jawa kepada cucu-cucunya, agar bisa lebih mencintai budaya Indonesia.
“Memang sengaja menonton karena cucu saya juga ikut tampil, ini saya juga mengajak cucu saya yang lain untuk melihat, supaya tahu dan kenal dengan wayang wong,” tuturnya. (ian/nik/dam) Editor : Damianus Bram