Koordinator PPDB Dinas Pendidikan Kota Surakarta Abi Satoto mengatakan, masih banyak orang tua yang tetap memaksakan anaknya untuk masuk ke sekolah favorit atau yang sudah memiliki nama besar dalam pelaksanaan PPDB tahun ini. Diakuinya hal tersebut, justru bisa menimbulkan kerusuhan di pelaksanaan PPDB.
“Misalnya, dia ada di wilayah zonasi dimana ada dua sekolah negeri di situ. Satu sekolah berjarak 50 meter, satunya 100 meter. Tapi malah yang dipilih yang 100 meter untuk pilihan pertama. Ini karena dianggap lebih favorit,” ucapnya, kemarin (6/7/2023).
Prioritas pilihan sekolah dapat menentukan peluang masuk anak ke sekolah negeri. Secara teknis, anak akan diseleksi dari jarak dan prioritas pilihan. Prioritas pilihan pertama, akan diutamakan untuk bisa masuk ke sekolah.
“Jadi kami selalu sarankan pada orang tua, untuk memilih sekolah terdekat di pilihan pertama karena peluang masuknya besar. Mindset sekolah favorit, pelan-pelan juga harus dihilangkan. Sekarang tidak ada sekolah favorit dan nonfavorit,” tegasnya.
Abi menjelaskan tujuannya untuk menghilangkan mindset sekolah favorit dan meringankan biaya pendidikan siswa. Hal tersebut lantaran dengan dekatnya lokasi sekolah dengan alamat rumah maka tidak perlu mengeluarkan biaya ongkos yang mahal.
“Kalau sekolahnya dekat juga jauh lebih murah soal biaya, tidak perlu keluar ongkos. Secara perlahan kami juga terus melakukan pemerataan kualitas pendidikan. Kami rehabilitasi sekolah-sekolah untuk pendidikan yang lebih nyaman,” imbuhnya. (mg1/ian/nik) Editor : Damianus Bram