Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

SD Negeri di Tengah Kota Solo Makin Sulit Cari Siswa: Jalur Zonasi Tak Diminati, Afirmasi Minim Pendaftar

Septian Refvinda Argiandini • Selasa, 11 Juli 2023 | 03:03 WIB
SDN Tumenggungan, Banjarsari, Solo makin kesulitan mendapatkan siswa baru.
SDN Tumenggungan, Banjarsari, Solo makin kesulitan mendapatkan siswa baru.

RADARSOLO.COM – Sejumlah sekolah dasar negeri (SDN) di Kota Solo kondisinya makin kembang kempis. Setiap tahun jumlah pendaftar terus turun. Bahkan jalur zonasi sangat minim pendaftar.

Salah satunya SDN Tumenggungan, Banjarsari, Solo. Hingga akhir PPDB 2023, hanya mendapatkan satu siswa dari 28 kuota yang disediakan. Satu siswa tersebut merupakan limpahan dari sekolah lainnya melalui jalur afirmasi. Sedangkan untuk jalur reguler atau zonasi belum ada satu siswa pun yang mendaftar.

Kepala SDN Tumenggungan Solo Leliy Maria mengatakan, merosotnya jumlah siswa sudah terjadi dari tahun ke tahun. Mulai lima tahun terakhir. Letak geografis sekolah yang berada di tengah kota serta dikepung dengan industri dan pertokoan membuat tidak adanya siswa yang mendaftar.

“Jadi trennya memang menurun. Saat ini zonasi tidak ada yang mendaftar,” ujarnya saat ditemui di sekolah setempat, Senin (10/7).

Diakui, pihak sekolah telah melakukan beberapa cara untuk menarik siswa agar mendaftar di sekolah itu. Mulai dari mendatangi beberapa TK di sekitar wilayah sekolah hingga menggelar kegiatan siswa dengan mendatangkan siswa-siswa TK ke sekolah, serta masih ada kegiatan lainnya. Pergerakan sekolah untuk menarik siswa bahkan sudah dilakukan sejak Maret lalu.

Namun, cara tersebut tidak begitu berpengaruh. Mengingat kondisi lingkungan yang jauh dari penduduk. Pihak sekolah mengaku sudah sempat meminta bantuan TP PKK untuk menyebarkan informasi PPDB. Namun ini belum efektif.

“Kami berikan ekstrakurikuler untuk menarik siswa. Ketika kami melakukan pergerakan kalau di kampung itu sangat berpengaruh. Tetapi kalau di sini sangat sulit meski kami sudah melakukan banyak pergerakan,” ungkapnya.

Merosotnya jumlah siswa setiap tahunnya juga berpengaruh pada pengelolaan anggaran sekolah. Sekolah negeri yang hanya bisa mengandalkan dana bantuan operasional sekolah (BOS) akan kesulitan jika jumlah siswa minim. Hal tersebut lantaran pemberian dana BOS akan disesuaikan dengan jumlah siswa.

“Memang kembang kempis, karena sekolah negeri bergantung pada BOS tidak boleh ada iuran. Otomatis kalau siswanya sedikit, BOS-nya juga sedikit,” ungkapnya.

Hal serupa juga terjadi di SDN Nayu Barat 1 Surakarta yang terletak di wilayah Banjarsari, Solo. Hingga akhir PPDB, sekolah baru menerima satu siswa jalur zonasi dan satu siswa jalur afirmasi. Rencana sekolah juga akan membuka pendaftaran secara offline. Merosotnya jumlah siswa di sekolah tersebut ditengarai lantaran adanya tren masyarakat yang memasukkan anaknya ke sekolah swasta unggulan.

“Mayoritas masyarakat sekitar di sini ekonominya menengah ke atas, jadi mencarinya di swasta-swasta unggulan. Meski kemarin kami juga sudah berusaha ke TK-TK terdekat. Kami juga berikan reward siswa, free satu seragam olahraga jika mendaftar ke sini,” ungkap Kepala SDN Nayu Barat 1 Surakarta Sri Sumiwi Inawangsih.

Merosotnya jumlah siswa yang berpengaruh pada penerimaan dana BOS juga menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah. Mereka dituntut untuk dapat mementaskan rancangan kegiatan anggaran tahunan (RKAT) sekolah secara efisien. Tidak jarang sekolah juga harus memangkas beberapa program dan kegiatan untuk menyesuaikan dengan anggaran yang ada.

“Salah satunya untuk peningkatan SDM kami memang butuh, tetapi karena dana BOS minim kami tingkatkan SDM kami sebisa mungkin tanpa budget. Meski kalau belajar sendiri memang berbeda dengan yang mendatangkan narasumber di ahlinya,” ungkapnya (ian/bun/ria)

 

Editor : Syahaamah Fikria
#PPDB 2023 #sd negeri #sekolah minim siswa #biaya operasional sekolah