RADARSOLO.COM - Pola asuh tidak sebatas anak mau mengikuti pendapat dan pandangan orang tua saja. Perlu juga mendengarkan pendapat dan mengerti keinginan anak, terutama bagi anak yang sudah memasuki usia remaja.
Ketika memasuki usia remaja, anak tentunya punya pandangan yang lebih rasional dalam menyikapi suatu permasalahan.
Duta Genre Kabupaten Sragen Hanifah Putri Andriyanti berpendapat pola asuh orang tua pada remaja saat ini banyak yang kurang terkoneksi dengan baik. Semestinya remaja mendapat penjelasan yang logis dalam upaya menyelesaikan permasalahan mereka.
”Pola asuh pada remaja saat ini yang saya lihat, ketika punya masalah kebanyakan orang tua mendengar masalah anak, namun serta merta menghakimi,” ujarnya.
Situasi tersebut menjadi salah satu penyebab anak lari ke hal negatif mengarah kenakalan remaja. Seperti narkotika, psikotropika dan zat adiktif (Napza) dan kenakalan remaja lainnya. Ini lantaran remaja tersebut tidak punya sandaran atau tempat yang nyaman untuk bercerita. ”Bisa saja pelarian ke hal negatif seperti alkohol, napza, dan sebagainya,” ujarnya.
Jika remaja memiliki masalah, maka orang tua harusnya bisa mengambil sikap sejak awal untuk menyelesaikan permasalahan anaknya. Kenakalan remaja itu juga bertahap, jadi perlu diantisipasi. Tidak langsung lari ke napza atau alkohol untuk pelarian masalahnya. Sehingga sebelum semakin menjadi-jadi, orang tua harus melakukan pembinaan dengan pendekatan yang dipahami anak remajanya.
”Ketika terlambat, anak sudah kecanduan ke napza atau alkohol, juga harus disembuhkan melalui rehabilitasi,” ungkapnya.
Hanifah menyampaikan sebagai Duta Genre, menjelaskan program Keluarga Berencana (KB) dirasa mampu mendorong keluarga yang berkualitas dengan menekan angka kelahiran. Dia menilai sampai saat ini masih sangat relevan untuk mewujudkan keluarga yang harmonis melalui program KB.
Namun sayangnya masih banyak individu orang tua kurang sadar pentingnya program KB dan pengaruhnya bagi pola asuh. Karena masih banyak yang memiliki pandangan banyak anak banyak rejeki. Sehingga dibentuk program genre untuk melakukan sosialisasi terkait KB, hingga melakukan pendampingan inventaris masalah remaja.
Dalam beberapa kasus karena masalah ekonomi, sejak usia remaja sudah harus mencari pendapatan. Namun tidak dipungkiri sebagian remaja mengambil langkah yang salah untuk mencari uang. Sampai ke arah prostitusi maupun kriminalitas.
”Semisal remaja putri ke prostitusi, berpotensi menyumbang angka HIV,” ujarnya.
Sehingga pemerintah melalui duta genre ini memberikan solusi untuk cara lain mencari pendapatan. Seperti pelatihan minat dan bakat serta berjualan. Sehingga tidak harus terjerumus ke hal negatif demi mendapatkan uang secara instan.
”Kalau dari kami, baru membatu untuk life skill, misal minar di editing video atau berbakat sebagai pembawa acara kami dampingi,” terangnya. (din/nik)
Editor : Damianus Bram