Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Cara Menghadapi Anak Mulai Pacaran, Orang Tua Harus Bisa Berperan

Iwan Kawul • Minggu, 6 Agustus 2023 | 18:28 WIB
Ilustrasi pengawasan orang tua saat anak mulai pacaran.
Ilustrasi pengawasan orang tua saat anak mulai pacaran.

RADARSOLO.COM - Orang tua biasanya memikirkan dampak buruk yang muncul saat anak tertarik dengan lawan jenis. Kekhawatiran berlebih tentu akan tumbuh. Orang tua harus bisa memberikan pendekatan terkait tingkah laku yang positif dengan lawan jenis.

Saat remaja, emosi anak tengah berguncang hebat, termasuk merasakan arti sebuah cinta. Jatuh cinta pada remaja adalah suatu kewajaran. Mereka tentu akan memiliki ketertarikan pada lawan jenis.

Seringkali terjadi karena pandangan pertama. Ini adalah saat dimana remaja sedang mengalami fase yang membuat emosi, pikiran, dan jati dirinya bergolak.

"Jatuh cinta pada anak remaja biasa. Tentu, ini terjadi karena pandangan pertama ada ketertarikan terhadap fisik, lalu mulai mencoba mengobrol, akhirnya ditanggapi dengan baik. Ya akhirnya jatuh cinta," terang psikolog anak, sekaligus Kaprodi Pendidikan Guru PAUD FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Dr. Anayanti Rahmawati.

Karena cinta mereka berawal karena ketertarikan terhadap fisik, maka orang tua juga harus memberi pengertian anak tentang batasan-batasan secara fisik. Jika ketertarikan fisik ini tidak dibatasi, maka bisa berakibat fatal. Bisa jadi, dari berpegangan tangan, berlanjut ke hal yang lain. Dan tentunya tak ada satupun orang tua di dunia ini mau anak remajanya menjadi ibu muda tanpa rencana.

Menurut Ana, ketertarikan kepada lawan jenis itu adalah hal yang lumrah, alami dan normal, namun tetap harus ada batasan-batasannya.

"Karena ketertarikannya fisik, maka sampaikan dengan baik terhadap anak. Misalnya kalau di agama Islam ada batasan-batasan bukan muhrim. Untuk mengingatkan laki-laki dan perempuan Muslim yang tidak memiliki ikatan keluarga untuk tidak bersentuhan. Tentunya di agama lain juga ada batasan-batasannya yang hampir sama," beber Ana.

Kemudian, jika anak dan lawan jenisnya sedang bertemu di rumah, usahakan untuk tetap berada di lokasi publik yang bisa diakses setiap saat. Bukan bagian rumah yang tertutup dan privat, yang tentu bisa menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan.

"Kalau sedang berbincang di rumah, berikan tempat yang mudah dilihat dan diakses. Bukan di kamar atau ditempat yang sepi," bebernya.

Lalu, jika anak berpamitan untuk pergi berdua dengan pacarnya, pastikan juga mereka pergi ke tempat umum dan banyak orangnya. Jadi bukan hanya mereka berdua saja. Batasi juga terkait waktu dan jarak, jadi harus bisa lebih terkontrol. Orang tua tidak perlu melarang, izinkan namun dengan batasan-batasan yang harus bisa dijalankan.

"Ya batasi waktu, tempat, dan jaraknya. Apalagi jika anak perempuan, harus lebih ketat tentang batasan-batasan itu," bebernya.

Orang tua harus bisa bicara dengan anaknya dari hati ke hati. Ini untuk memberi penjelasan tentang konsep pacaran yang sehat. Mengapa demikian? Terlalu mengekang justru bisa membuat anak merasa asing dan semakin menjaga jarak dari orang tua. (kwl/nik)

Editor : Damianus Bram
#pacaran #anak mulai pacaran #emosi anak