RADARSOLO.COM - Hari Pertama pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta diwarnai penolakan dari beberapa mahasiswa. Mereka meminta pelaksanaan PBAK ditunda, karena masih dalam suasana pro kontra kasus pinjaman online yang melibatkan mahasiswa baru (maba) setempat.
Sebelum membuka prosesi PBAK, Rektor UIN Raden Mas Said Prof Mudofir sempat dihadang oleh beberapa mahasiswa. Mereka meminta kegiatan PBAK untuk ditunda. Sambil membawa poster bertuliskan “Batalkan PBAK 23”. Mahasiswa ini minta Rektor untuk menghentikan kegiatan PBAK.
“Kami meminta untuk kegiatan PBAK ini dibatalkan atau ditunda terlebih dahulu. Rektorat memberikan ketegasan pada penyelesaian permasalahan PBAK dab Pinjol. Hanya menebar gimmick dan membuat seolah-olah kasus tertangani,” ucap perwakilan Aliansi Mahasiwa Independen Hendrawan.
Mahasiswa menilai, pengambilalihan PBAK oleh pihak rektorat tidak akan berdampak signifikan. Karena toh, panitia dan pendamping maba sudah menyalahi kode etik.Gambaran gamblang bobroknya literasi digital mahasiswa sekelas UIN.
“Dari sini kampus telah menggunakan powernya untuk mengkondisikan dari segala lini hanya untuk memperbaiki citra kampus namun tidak menyelesaikan permasalahan dan mengusut tuntas kejadian tersebut,” tegas koordinator aksi sekaligus Ketua Umum Komisariat Walisongo ini.
Menanggapi hal tersebut, Rektor UIN Raden Mas Said Solo Mudofir mengatakan, pelaksanaan PBAK tidak dapat dibatalkan maupun ditunda karena persiapan sudah rampung dan berjalan 100 persen. Ia menjelaskan jika PBAK ditunda dan dibatalkan akan menyebabkan kerugian bagi pihak kampus dan mahasiswa. Ia juga menjamin jika pelaksanaan PBAK akan berjalan lancar.
“Ini berdekatan sekali dengan pelaksanaan PBAK untuk kemaslahatan publik dan dananya PBAK sudah dipakai untuk macam-macam. Jika itu tidak jadi maka kerugian kita akan lebih banyak lagi. Karena itu keputusan cepat harus diambil,” ucap Rektor UIN tersebut.
Sementara itu, salah satu mahasiwa baru yang hadir dalam pembukaan PBAK mengaku cukup antusias mengikuiti rangkaian kegiatan. Meskipun sebelumnya, ia mengaku sedikit resah karena ramainya kasus pinjol yang menyeret nama kampusnya.
“Iya seru aja, karena kasus kemarin jadi viral juga kampus,” ucap Muhammad Farhan maba UIN 2023 ini
Mahasiswa baru jurusan Sejarah Peradaban Islam tersebut mengaku sebelumnya ia juga diwajibkan untuk mengunduh dan melakukan registrasi pinjol pada saat pembekalan PBAK. Ia mengaku sudah sempat mengunduh aplikasi dan melakukan registrasi namun gagal. Farhan juga mengaku bersyukur karena gagal melakukan registrasi pinjol.
“Sempat bertanya ke panitia ini untuk apa, tapi dijawab langsung daftar saja. Tapi banyak teman saya yang bisa. Jadi nanti kalau berhasil itu ditransfer 50 ribu, nanti dikembalikan lagi ke sana (pihak) sponsorship,” ucapnya.(ian)
Editor : Damianus Bram