RADARSOLO.COM – Anak berkebutuhan khusus (ABK) sering merasa minder di sekolahan inklusi. Perbedaan ini, yang kemudian membuat ABK rentan jadi korban bullying atau perundungan. Kondisi tersebut membutuhkan penangan dan pengawasan secara khusus dari guru.
Dampak negatif perundungan di sekolah inklusi, sangat berbahaya bagi psikologis ABK. Karena bullying memicu masalah kesehatan mental. Seperti cemas, depresi, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD).
“Bulliying adalah persoalan besar. Ini yang menjadi fokus para tenaga kependidikan, bagaimana mencegah hal itu terjadi,” kata manager perlindungan korban Yayasan Kakak Solo Intan Hadiah.
Intan berharap, apapun bentuk bullying bisa dicegah sedari awal. Dalam hal ini, satuan pendidikan berkewajiban mengingatkan dan mengawasi.
“Terkadang anak putus sekolah bisa juga karena indikator bullying. Merasa malu bahkan takut ke sekolah. Maka guru harus peka jika ada interaksi yang berbeda pada setiap muridnya,” imbuhnya.
Guru pendamping khusus (GPK) sekaligus bimbingan dan konseling (BK) SMPN 23 Surakarta Rahmad Adi Indra menambahkan, siswa ABK cenderung kurang pede (percaya diri). Mayoritas sering menyendiri. Sehingga butuh pendampingan dan motivasi lebih, dibandingkan dengan siswa normal lainnya.
“Mungkin karena perbedaan itu, membuat mereka sedikit minder. Di sini ada seorang siswa yang secara fisik kakinya tidak normal. Waktu masih awal masuk dulu, lebih sering diam dan menyendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SLB D YPAC Solo Jalaludin Khawarizmi mengaku ada trik khusus agar ABK lebnih pede. Salah satunya dengan memberi ABK kesempatan berbicara. Siswa juga didorong mengikuti event perlombaan, yang sesuai minat dan bakatnya.
“Intinya kalau di SLB harus melihat bakat anak. Kalau hanya melihat kekurangan, tidak mungkin maju. Ibarat ikan, kalau disuruh memanjat ya tidak bisa,” ungkapnya.
Selain itu, ABK juga didorong lebih mandiri. Melalui pembekalan keterampilan yang biasa dimanfaatkan di kemudian hari. Termasuk kebiasaan mengenakan pakaian, sepatu, dan aktivitas lain secara mandiri.
“Kami sering mengajak anak tampil di depan umum untuk mengasah rasa percayaan diri siswa. Biasanya kami ajak bermain musik di CFD (car free day),” bebernya. (ian/fer)
Editor : Damianus Bram