Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Penyembuhan Kasus Kekerasan Anak, Tangani Trauma lewat Analisis Transaksional

Septian Refvinda Argiandini • Selasa, 17 Oktober 2023 | 18:00 WIB
Ilustrasi kekerasan anak. (IRECK OKTAVIANTO/RADAR SOLO)
Ilustrasi kekerasan anak. (IRECK OKTAVIANTO/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM Kasus kekerasan pada anak, baik secara fisik, psikis, maupun seksual tengah marak terjadi. Situasi ini mendorong mahasiswa sebagai akademisi untuk ikut ambil andil dalam upaya pencegahan maupun rehabilitasi.

Berfokus pada penyembuhan trauma atau luka batin pada anak sebagai korban kekerasan fisik maupun seksual. Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) berhasil gunakan konseling kelompok metode roleplay berbasis analisis transaksional untuk tangani trauma masa lalu.

“Program yang bernama Hello and Play The Past ini bertujuan meningkatkan resiliensi remaja yang memiliki trauma inner child dengan menggunakan assertive training-role play berbasis analisis transaksional,” ucap Ahmad Saifudin, salah satu anggota.

Ahmad mengatakan, jika selama ini upaya lembaga kesejahteraan sosial atau pekerja sosial  dan masyarakat untuk mencegah, merehabilitasi, dan memberi perlindungan kepada anak terlihat masih belum cukup digencarkan. Hal tersebut juga menjadi alasan untuk melakukan inovasi dalam penyembuhan luka batin pada anak.

“Korban kekerasan dan pelecehan seksual akan mengalami trauma yang mendalam, selain itu stres yang dialami korban dapat mengganggu fungsi dan perkembangan otaknya, serta gangguan lainnya,” ungkapnya

Dijelaskan Ahmad, program ini memakai instrumen berupa trauma antecedents questionnaire (TAQ) untuk menyeleksi remaja yang memiliki trauma inner child. Para korban tersebut diberikan intervensi dan connor-davidson resilience scale (CD-RISC) untuk mengukur resiliensi sebelum dan sesudah diberikan intervensi.

“Metode ini yang menjadi istimewa dengan konseling kelompok. Menggunakan metode roleplay berbasis analisis transaksional. Cara ini dinilai mampu untuk bisa mengintervensi trauma yang dialami oleh remaja yang ada di panti asuhan,” terangnya.

Ahmad memaparkan, metode ini dapat diterapkan dengan tiga kali pertemuan. Pertemuan tersebut memiliki tujuan untuk mengintervensi dan memberikan penanganan trauma para korban. Pihaknya menyebut, jika hasil dari uji coba konseling kelompok metode roleplay berbasis analisis transaksional mampu menangani trauma masa lalu yang dialami oleh remaja.

“Riset Sosial Humaniora ini kami harapkan bisa menjadi pilihan atau alternatif masyarakat atau lembaga sosial untuk mengupayakan kesembuhan luka batin anak atau remaja akibat menjadi korban kekerasan fisik, psikis, maupun seksual,” harapnya. (ian/nik)

Editor : Damianus Bram
#Kekerasan Pada Anak #luka batin #universitas sebelas maret #kekerasan #uns #trauma #konseling