RADARSOLO.COM- Mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali suguhkan event bergengsi.
Adalah All Etno #20 yang digelar 17-18 November. Mengusung tema “Suara Nusantara Menuju Peradaban Dunia”.
Tancap Layar Musik (TLM ) adalah salah satu rangkaian acara yang dihelat Jumat (17/11/2023).
TLM sendiri adalah wadah untuk mahasiswa membedah karya film dokumenter terkait kebudayaan, tradisi, dan isu-isu lain di tengah masyarakat.
Tahun ini, dua film yang dipamerkan berjudul “Terpaksa Dewasa” karya Arya Adha.
Menyoroti tentang Gambang Kromong pada kebudayaan Betani yang bukan hanya sekedar tradisi
Bagi sebagian individu, ngibing yang berarti menari menjadi sebuah kesenangan, atau dalam bahasa Betawi sering disebut plesiran.
Dalam konteks ini, cokek menjadi sebuah objek yang dapat memberikan rasa kesenangan tersebut.
Cokek dalam kesenian Gambang Kromong berperan sebagai penari yang akan menemani para tamu untuk ber-plesiran.
“Sangat senang dan berkesan bisa menjadi narasumber di acara All Etno. Saya mendapatkan wadah untuk menayangkan karya feature,” jelas Arya Adha.
Berikutnya adalah film berjudul “Svara Bajra” karya Indah Wahyuningsih.
Svara Bajra mengangkat alat musik yang dapat mengeluarkan bunyi dan syarat akan nilai spiritual, yaitu genta.
Dalam peribadatan agama Hindu, sumber bunyi dari genta sangat dibutuhkan.
“Memang dari sisi suara hampir mirip dengan lonceng yang banyak kita temui. Namun apakah hanya sebatas itu?” ujar Indah.
Menurut Indah, TLM dapat menjadi wadah memperkenalkan kebudayaan Indonesia.
“Melalui media film, masyarakat dapat lebih mudah memahami kebudayaan melalui visual langsung,” ucapnya.
Sementara itu, Daryn Fairuz, salah seorang pengunjung All Etno mengatakan, film dokumenter memberikan kesan dan pesan positif.
"Sangat memotivasi untuk berkarya melalui seni audio visual. Karya yang ditampilkan menakjubkan,” tuturnya. (mg22/mg24/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono