RADARSOLO.COM – Mayoritas anak berkebutuhan khusus (ABK) masih merasa minder atau rendah diri saat bersosialiasi. Tak jarang, mereka juga mendapat perlakuan kurang mengenakan atau bullying.
Inilah alasan utama, mengapa masih banyak ABK yang memilih pindah dari sekolah umum ke sekolah luar biasa (SLB).
Fakta tersebut disampaikan Kepala Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC) Solo Jalaludin Khawarizmi.
Dia mengaku SLB menjadi rujukan terakhir siswa ABK dalam mendapatkan pendidikan yang setara. Minder dan bullying menjadi alasan utama ABK pindah ke SLB.
“Di-bully di sekolah umum, kemudian memilih pindah ke sini. Selain itu tingkat kepercayaan diri siswa yang sejak awal di SLB, dengan yang pindahan dari umum itu memang berbeda,” ucap Jalaludin, kemarin (4/12).
Jalaludin menambahkan, mayoritas tingkat kepercayaan diri siswa pindahan dari sekolah umum cenderung rendah.
Menurut pandangannya, kondisi tersebut disebabkan karena kurangnya literasi pembelajaran guru di sekolah formal. Terutama terkait penanganan siswa ABK.
“Akhirnya potensi anak ABK tidak terlihat. Kemudian pindah ke SLB baru bisa kelihatan. Jadi kami memperbaiki mental dan melihat potensi anak,” paparnya.
Berdasarkan pengalamannya menjadi guru SLB, Jalaludin mengaku siswa ABK memiliki bakat dan minat yang luar biasa jika difasilitasi dengan baik.
Sebelum siswa ABK mengikuti program inklusi di sekolah umum, sebaiknya memiliki bekal yang cukup dari SLB.
“Dulu ada siswa pindahan dari sekolah umum, percaya dirinya menurun. Setelah kami asah, bakatnya meningkat di SMA. Kami arahkan masuk SMKN 8 Solo untuk belajar musik,” beber Jalaludin.
Sementara itu, Manajer Perlindungan Korban Yayasan Kakak Solo Intan Hadiah menyebut, ABK rentan mengalami bullying.
Maka diperlukan penangan dan pengawasan khusus dari guru. Karena dampak negatif bullying di sekolah umum sangat berbahaya bagi psikologi ABK. Bisa memicu kesehatan mental seperti cemas, depresi, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD).
“Bullying persoalan besar. Menjadi fokus para tenaga pendidikan di sekolah formal. Berupaya melakukan pencegahan agar bullying tidak terjadi di sekolah formal,” paparnya. (ian/fer)
Editor : Damianus Bram