RADARKLATEN.COM-Bahasa kasih memiliki peran dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak secara optimal.
Termasuk mencegah kebingungan anak dalam pencarian identitas diri, sehingga tidak terjebak pada pergaulan yang menyimpang.
Dalam dunia parenting pendekatan orang tua dan anaknya harus benar-benar terjaga dengan baik. Ini demi progres perkembangan anak yang bagus berjalan sesuai yang diharapkan orang tua.
“Penting tentunya bagaimana orang tua dalam mendidik anaknya. Termasuk berhubungan dengan membangun relasi dengan anak secara tepat. Salah satu contohnya dengan memberikan lima bahasa kasih,” ucap Pegiat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Klaten Amin Bagus Panuntun yang juga memiliki perhatian di dunia parenting.
Lima bahasa kasih yang dimaksud Amin merupakan konsep yang dikembangkan oleh Gary Chapman dalam bukunya berjudul The 5 Love Languages: The Secret to Love That Lasts.
Menurut Amin lima bahasa kasih itu begitu penting diberikan orang tua sejak anak masih balita.
Bahasa kasih yang pertama yakni physical touch atau sentuhan fisik.
Amin mengungkapkan, kontak fisik menjadi salah satu cara orang tua dalam menunjukan rasa sayang pada anak.
Contohnya seperti menepuk-nepuk pada bagian punggung atau membelai bagian tubuh anak, hingga merasa disayangi.
“Kemudian acts of service yakni orang tua bisa menunjukan rasa sayang pada anak dengan melayaninya. Seperti menyuapi pada anak. Jangan hanya ibu yang melakukan, tetapi ayah juga harus ikut berperan,” ucap Amin.
Selanjutnya, Amin mengungkapkan orang tua bisa memberikan receiving gift atau reward kepada anak ketika bisa mencapai sesuatu.
Apresiasi yang diberikan pada anak tak melulu berwujud barang maupun materi lainnya. Tetapi juga bisa memberikan hadiah berupa pelukan pada anak.
Bahasa kasih selanjutnya yakni word of affirmation atau memberikan perhatian pada anak melalui kata-kata atau secara verbal.
Terutama dengan memberikan pujian guna membangkitkan rasa percaya diri pada anak. Misalnya dengan mengucapkan hal sederhana seperti terima kasih, sehingga anak merasa dihargai.
“Lalu quality time atau kehadiran orang tua baik ayah dan ibu yang menghabiskan waktu bersama dengan anaknya. Melakukan kegiatan secara bersama sehingga waktu yang dihabiskan terasa berkualitas,” ucapnya.
Amin mengungkapkan, melalui bahasa kasih itu bisa membentuk kepribadian anak yang salah satu contohnya perkuat mental.
Hal itu menjadikan anak ketika mendapatkan tekanan tetap bisa menjaga mentalnya sehingga tidak down. Meski begitu, tetapi perlu mendapatkan dukungan dari orang tua untuk bisa memberikan pemahaman.
Di sisi lain, Amin juga menekankan dalam membangun hubungan keluarga, jangan sampai ada pihak dominan baik ayah maupun ibu ketika di depan anak.
Misalnya ibu yang sering memarahi ayah di depan anak. Mengingat hal itu bisa membentuk konstruksi anak terkait pemahaman terhadap sosok ibu maupun sebaliknya.
“Maka itu harus bisa saling menjaga kewibawaan saat di depan anak. Tentunya dengan menjalankan perannya masing-masing sebagai orang tua dalam mendukung pembentukan karakter anak,” ucapnya.
Amin juga menambahkan penggunaan media sosial oleh anak tetap harus dibawah pengawasan orang tua. Ini karena bisa mempengaruhi pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak.
Maka itu perlu diatur dan tetap memberikan pemahaman pada anak terkait hal yang ditonton. (ren/nik)
Editor : Tri Wahyu Cahyono