RADARSOLO.COM-Kunci keberhasilan pendidikan berakar pada strategi pengelolaannya. Manajemen pendidikan yang baik akan mendorong pengembangan ke arah lebih signifikan.
Itulah yang dilakukan Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof Sofyan Anif dalam memajukan pendidikan di lingkungannya. Hingga membawa UMS mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Passion, teori, dan realitas pengalaman. Tiga aspek inilah yang ditekankan Sofyan Anif selama menggeluti dunia pendidikan.
Guru besar manajemen pendidikan ini tak henti-hentinya mendesain gagasan baru soal metode pembelajaran.
Sentuhan kebijakannya mampu membawa citra positif UMS, sehingga namanya kian moncer di lingkup pendidikan tanah air.
Kiprahnya memang tak perlu diragukan lagi. Puluhan tahun Sofyan Anif bergelut di bidang pendidikan dari tataran bawah. Mulai dari lingkup program studi, dekan, wakil rektor hingga menjabat rektor.
"Tentu mengulas sebuah pendidikan di semua level itu harus dibekali pengalaman teoritis maupun konspetual,” terang Sofyan Anif.
“Dari teori yang kita baca itulah yang kemudian diimplementasikan dengan terus memunculkan ide-ide atau keativitas baru. Karena mengelola pendidikan itu sebuah seni," imbuhnya.
Pengalaman sebagai rektor dan juga wakil penasihat di Forum Rektor Indonesia ini selalu membawa dampak nyata bagi kemajuan UMS.
Sebut saja, tiga penghargaan sekaligus pernah diraih dalam Anugerah Diktiristek 2023 dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) belum lama ini.
Yakni, Silver Winner Pembukaan Prodi Baru 2023, Terbaik Wirausaha Merdeka, dan Teraktif 2 Spada Award Dikti.
Berbagai macam prestasi ini tidak lepas dari tanggung jawab Sofyan Anif dalam mengelola sistem pendidikan di lingkungannya.
Sofyan selalu mengajarkan agar setiap instansi di bawahnya untuk menyusun dokumen rencana stretegis yang terstruktur.
Seperti mimpi jangka panjangnya mengenai pengembangan UMS menjadi world class university.
"Kami harus punya dokumen pengembangan jangka panjang. Misalnya saya sebagai rektor ingin membuat UMS sebagai world class university di 2029,” ucap Sofyan Anif.
“Nah tentu dari rencana jangka panjang itu kami breakdown menjadi jangka menengah. Yang menggambarkan sasaran, target, dan kebijakan yang kami hendaki setiap tahunnya,” imbuh dia.
Dalam hal ini, kata Sofyan, rencana strategis juga harus disadari dan dijalankan betul oleh semua civitas akademika.
Mulai dari lingkup prodi hingga rektor harus membentuk komitmen secara utuh agar tujuan strategis baik di jangka menengah maupun panjang bisa tercapai.
“Maka awal saya menjadi rektor di UMS, selalu menanamkan budaya mutu. Lewat budaya kumpul-kumpul atau diskusi kecil yang membahas substansi pengembangan produk masing-masing prodi,” tutur Sofyan Anif.
“Dan itu sudah jadi kultur di UMS sampai sekarang. Dengan upaya inilah setidaknya rencana strategis kami bisa terwujudkan satu per satu," kata dia.
Tak hanya sebatas itu, dalam penerapannya, Sofyan juga berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungannya.
Dengan mendorong para dosen agar terus belajar dan memiliki jenjang lulusan hingga S3. Untuk itulah, Sofyan Anif membentuk kebijakan pendanaan atau beasiswa bagi para dosen.
“Saya ingin semua dosen nanti harus minimal S3, maka kami sediakan dananya tapi dengan syarat lulus dalam tiga tahun,” terangnya.
“Kami buka prodi-prodi baru pascasarjana S3 di UMS agar para dosen bisa mudah menjalani lanjutan studinya. Dengan begitu mereka juga memiliki motivasi yang kuat untuk belajar," ungkap Sofyan Anif.
Peningkatan kualitas SDM dengan jenjang lulusan lebih tinggi ini tentu bukan alasan. Sofyan Anif ingin agar para dosen bisa mengembangkan keilmuan masing-masing dengan maksimal, sehingga bisa memberi pelajaran maksimal kepada para mahasiswa.
Terbukti, kini UMS telah banyak melahirkan gurru besar dengan segudang riset dan temuannya.
Berdasarkan catatan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V DIJ, sebanyak 46 guru besar tercatat di Universitas Muhammadiyah Surakarta.
"Yang penting dalam manajemen pendidikan itu harus ada visi bersama. Boleh awalnya sebuah visi itu dari rektor, tapi kunci suksesnya seluruh elemen di bawahnya juga harus menjalankan visi misi bersama terkait pengembangan pendidikan ini," tandas Sofyan.
Sofyan menekankan, ada lima kunci kesuksesan dalam menjalani hidup. Bukan hanya tentang pengetahuan dan prestasi, paling utama adalah kejujuran.
"Ini persoalan soft skill ya. Pada saat apapun dan di manapun, kejujuran itu merupakan kunci sukses nomor satu. Kemudian ada kedisiplinan, kerja sama, kemampuan berkomunikasi, dan tanggungjawab. Ini yang juga saya tanamkan kepada para mahasiswa agar selalu menerapkan lima hal ini," terangnya.
Sofyan Anif berharap agar masyarakat dan pemerintah mulai membuka mata bersinergi memajukan pendidikan tanah air. Sebab, menurut dia, pendidikan adalah penyokong visi Indonesia Emas 2045.
"Saya ingin pendidikan sekarang itu tidak lagi berontasi kepada dinamisasi, tapi progresivitas melalui pengelolaan lembaga pendidikan,” ucap Sofyan Anif.
Sehingga harapannya di konsep pendidikan abad 21 ini, output lulusan harus memiliki kemampuan inovasi, kreativitas, sekaligus kemampuan teknologi.
Atas segudang kiprah Sofyan Anif di dunia pendidikan tinggi, Jawa Pos Radar Solo menganugerahkan Top of The Year 2023 kategori Top Leader Manajemen dan Pengembangan Pendidikan. (ul/bun)
Editor : Tri Wahyu Cahyono