Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Resital Karawitan FSP ISI Surakarta Sukses Pukau Audiens, Buktikan Kualitas Selama Tempuh Kuliah

Tri wahyu Cahyono • Jumat, 12 Januari 2024 | 17:52 WIB
Resital Karawitan bertema Mad Sinamadan yang digelar mahasiswa Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta di Teater Besar, 10-11 Januari 2024
Resital Karawitan bertema Mad Sinamadan yang digelar mahasiswa Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta di Teater Besar, 10-11 Januari 2024

RADARSOLO.COM- Resital Karawitan yang digelar mahasiswa Jurusan Seni Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, tampil memukau.

Gemuruh tepuk tangan audiens menggema di Teater Besar ISI Solo setiap kelompok menyelesaikan pentasnya.

Ahmad Syarifuddin Wahid, penyaji ricikan kendang mengatakan, bersama kelompoknya, dia menyuguhkan gending dalam bentuk mrabot.

Terdiri dari Jineman Glathik Glindhing, Gambirsawit Gendhing kethuk 2 (kalih) kerep minggah 4 (sekawan) kalajengaken Ladrang Tirta Kencana Laras Pelog Pathet Nem.

Syarif, sapaan akrab Ahmad Syarifuddin Wahid merasa lega karena pentasnya sukses.

"Penyajian ini sudah dipersiapkan dalam waktu dua bulan. Dari proses memang banyak kendalanya, misalnya kedisiplinan waktu. Intinya tetap senang pada Resital Karawitan 2024 ini," jelasnya.

Digelar selama dua hari, 10-11 Januari 2024, event tersebut merupakan wadah mengaplikasikan materi mata kuliah Karawatian hingga dipentaskan.

“Resital Karawitan periode II ini mengusung tema Mad Sinamadan. Artinya saling menghargai, toleransi, dan tidak mendahului,” terang ketua tim pelaksana Maulana Prayugo kepada radarsolo.com.

Sementara itu, Ketua Program Studi (Prodi) Seni Karawitan Darno menuturkan, Resital Karawitan bertema Mad Sinamadan masih ada hubungannya dengan konsep Resital Karawitan periode sebelumnya, yaitu perjalanan menuju kesempurnaan.

"Kesempurnaan yang dimaksud dari konsep sebelumnya adalah Mad Sinamadan ini. Mad Sinamadan artinya saling menghargai, toleransi, dan tidak mendahului," ungkapnya.

"Kita belajar untuk saling menghargai, toleransi, dan tidak mendahului dalam suatu pertunjukan karawitan" imbuh Darno.

Pertunjukan karawitan gaya Solo ini menampilkan 15 kelompok mahasiswa Seni Karawitan semester V.

Mereka adalah para pemusik gamelan atau yang disebut penyaji ricikan. Meliputi rebab, gender, kendang, dan vokal sinden.

Tampil memukau di hadapan para dosen, guru-guru seni budaya, orang tua penyaji, dan masyarakat umum.

Dosen Seni Karawitan Kristina Novi Susanti mengungkapkan, pada Resital Karawitan, pihaknya mengundang orang tua mahasiswa penyaji sebagai pertanggungjawaban institusi atas pembelajaran mahasiswa Seni Karawitan.

"Orang tua bisa mengapresiasi anaknya secara langsung. Ini menjadi pembuktian bagi kampus bahwa putra-putri mereka sudah berhasil dalam menempuh pendidikan di Prodi Karawitan," katanya.

Kristina berharap, pertunjukan segala macam gending klasik gaya Solo ini bisa memotivasi anak muda untuk nguri-uri budaya Jawa.

"Dengan durasi satu gending bisa sampai 50 menit, itu kan luar biasa ya. Semoga bisa menginspirasi anak muda untuk tersu melestarikan budaya," harapnya.

Erlista Amilia Ananda, salah seorang anggota keluarga mahasiswa Seni Karawitan mengapresiasi dan merasa bangga dengan pertunjukan Resital Karawitan.

"Kami belum pernah nonton pertunjukan seperti ini. Tentu saja terkesima dengan penampilan para mahasiswa ISI Surakarta ini," tutur perempuan asal Ponorogo itu. (zia/wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#seni karawitan #isi surakarta #fakultas seni pertunjukan #resital karawitan #FSP