RADARSOLO.COM - Kasus perundungan atau bullying yang terjadi di sekolah kerap kali melibatkan suatu geng.
Misalnya, pada kasus perundungan siswa SMP di Cilacap dan salah satu sekolah elite di Tangerang Selatan belum lama ini.
Hal tersebut menjadi bukti bahwa masih banyak remaja yang terlibat dalam kekerasan berkelompok.
Pakar Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Tri Rejeki Andayani mengatakan, pada umumnya pelaku perundungan bisa individu atau kelompok.
Namun, mayoritas memilih berkelompok karena dengan berkelompok terjadi penyebaran rasa tanggung jawab.
"Pelaku merasa yakin bahwa tindakannya tidak akan diperhatikan sebagai tindakan perorangan, namun sebagai tindakan kelompok," paparnya.
Tri menyebut, fenomena tersebut sebagai deindividuasi atau hilangnya kesadaran diri dan kontrol diri karena melebur dalam satu kelompok.
"Dengan kata lain, menyatunya identitas individu sebagai kelompok inilah yang membuat seseorang kehilangan identitas diri (anonimitas). Sehingga mendorong mereka mudah berperilaku agresif atau menyimpang dari norma sosial," jelasnya.
Dengan begitu, dikatakan Tri, mereka merasa tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan.
Selain itu, dengan berkelompok muncul pemikiran kelompok atau groupthink dan perasaan in-group atau out-group.
Pemikiran tersebut mendorong anggota kelompok cenderung menilai dan memperlakukan orang-orang yang satu kelompok lebih baik daripada orang-orang di luar kelompoknya.
"Pemikiran kelompok terjadi ketika muncul keinginan seseorang untuk mempertahankan loyalitas terhadap kelompok dengan mengalahkan semua faktor lainnya. Termasuk dengan mengabaikan norma sosial. Maka tidak heran, jika pelaku ada yang justru cenderung merasa bangga saat merundung orang lain dan tidak jarang merekam tindakannya," imbuhnya.
Tri mengatakan, pelaku perundungan dipengaruhi ileh faktor individu dan lingkungan.
Dari segi faktor individu, Tri menyebut pelaku perundungan memiliki empati yang rendah. Selain faktor empati, harga diri juga menjadi salah satu faktor penyebab perundungan.
Tri menilai harga diri yang rendah atau terlalu tinggi memiliki risiko yang sama untuk menjadi pelaku perundungan.
"Pelaku yang memiliki harga diri rendah cenderung sulit menemukan hal positif dari dirinya. Sebaliknya yang terlalu tinggi harga dirinya akan merasa dirinya paling unggul dan lebih berharga daripada orang lain di sekitarnya. Sehingga dia cenderung memandang rendah orang lain," bebernya.
Baca Juga: Hal yang Harus Dilakukan bagi Ibu Hamil Perdana: Siapkan Psikis, Perlu Pemeriksaan Terpadu
Pelaku perundungan cenderung bersifat egosentris. Terlalu fokus pada kepentingan atau keuntungan pribadi dengan mengorbankan atau mengabaikan kepentingan atau kesejahteraan orang lain.
Sementara dari faktor lingkungan, Tri mengatakan, rendahnya kontrol sosial menjadi salah satu penyebab perundungan.
"Karena kontrol sosial yang berjalan dengan baik akan membantu seseorang atau sekelompok orang taat pada peraturan dan norma yang berlaku di lingkungannya," paparnya.
Dikatakan Tri, empati memegang peranan penting dalam mencegah sebuah kasus perundungan.
Empati adalah suatu keadaan mental yang membuat seseorang dapat menempatkan dirinya ke dalam keadaan perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain sehingga tidak berbuat semena-mena pada orang lain.
"Salah satu cara mengajarkan empati adalah dengan tepa selira atau tenggang rasa. Sebelum melakukan segala sesuatu pada orang lain, pikirkan seandainya hal itu diterapkan atau terjadi pada diri sendiri. Jika diri sendiri saja tidak mau disakiti, ya jangan menyakiti orang lain," lanjutnya.
Selain itu, Tri mendorong keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk meningkatkan kontrol sosial.
"Berkelompok sah-sah saja, tetapi perlu didampingi agar tidak mengembangkan arogansi dan bersifat eksklusif, sehingga mengabaikan kepentingan orang lain di luar kelompoknya, apalagi melanggar peraturan dan norma sosial," tegasnya. (zia/bun)
Editor : Damianus Bram