Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Mempersiapkan Anak Usia Dini Memasuki Jenjang SD, Ini Tipsnya

Angga Purenda • Senin, 4 Maret 2024 | 02:17 WIB
CERIA: Anak-anak PAUD dan TK Gajah Mada di Desa Ceper, Kecamatan Ceper, Klaten belajar memasak, belum lama ini.
CERIA: Anak-anak PAUD dan TK Gajah Mada di Desa Ceper, Kecamatan Ceper, Klaten belajar memasak, belum lama ini.

RADARSOLO.COM - Masa transisi pendidikan mempersiapkan anak dari Taman kanak-kanak ke jenjang SD perlu menjadi perhatian. Terutama dari orang tua, sekolah hingga pihak yang ada di sekitar lingkungannya.

Adanya persiapan yang matang bisa membantu anak PAUD maupun TK untuk lebih siap untuk menapaki ke jenjang pendidikan berikutnya.

Mulai dari proses belajar hingga mengenal lingkungan baru di SD. Peran orang tua paling urgen dan penting. Mereka harus bisa mendampingi hingga mendukung tahapan perkembangan anak.

Pemerhati PAUD asal Klaten Dwi Kurniasih mengungkapkan, ada sejumlah hal yang harus dipersiapkan sebelum anak usia dini memasuki jenjang SD.

Salah satunya dengan melatih kemandirian. Ada sejumlah kegiatan yang bisa dilakukan di sekolah maupun rumah untuk mengajarkan hal tersebut.

Seperti mengajak anak untuk melakukan kegiatan berkemah. Didalamnya terdapat berbagai kegiatan, seperti pembelajaran literasi, memasak bersama, mengajarkan etika makan, hingga survival life.

“Melatih anak-anak untuk memahami kebutuhannya. Mereka juga bisa problem solving, ketika merasakan ketidaknyamanan atau butuh apa, dengan tetap memberikan ruang dan pengalaman sesuai usia mereka guna melatih kemandirian,” jelasnya.

Lebih lanjut, perempuan yang akrab dipanggil Nunik ini mengungkapkan, apabila deretan kegiatan ini dilakukan bersama-sama teman sebaya di sekolah, tentunya bisa memperkuat nilai kerja sama dalam kelompok.

Termasuk mengajarkan nilai gotong royong hingga life skill atau kecakapan hidup.

“Melalui berbagai kegiatan itu, mereka bisa belajar bahwa mereka bisa dan mampu. Misalnya mampu membuat lauk atau mencuci alat makan maupun kaos kakinya sendiri. Termasuk terus digugah dan dirangsang untuk bernalar kritis,” tambah Nuning.

Sementara itu, kegiatan yang bisa dilakukan di rumah dengan orang tua juga banyak. Misalnya melakukan identifikasi kediamannya.

Contohnya seperti mengetahui lokasi dan fungsi setiap ruangan, hingga bisa menceritakannya itu apa.

Harapannya anak usia dini tidak hanya ditekan oleh orang tuanya untuk bisa membaca, menulis, dan menghitung (calistung) semata.

Menurutnya, orang tua harus memahami tumbuh kembang dan keunikan dari setiap anak usia dini.

Apabila tetap ingin melatih untuk calistung sebagai bagian persiapan memasuki jenjang SD, bisa dibawakan dengan cara bermain yang menyenangkan.

Hal-hal yang kritis dari TK ke SD itu lebih kepada bagaimana mereka di sekolah SD bisa membawa diri. Lalu mampu menyuarakan ketika ada ide, kebutuhan maupun ketidaknyamanan sehingga berani untuk berbicara.

"Jadi lebih kepada kesiapan mereka (anak usia dini) secara sosial, emosional dan nalarnya siap ke jenjang berikutnya,” jelas Nunik.

Dia mengungkapkan, harus ada kerja sama dalam menyiapkan anak usia dini menapaki ke jenjang SD.

Terlebih lagi pendidikan yang paling utama ada di rumah dengan prosentase sekira 60 persen, 20 persen di sekolah, dan 20 persen lagi di lingkungan masyarakat.

“Memang (pendidikan, Red) di rumah itu harus kuat untuk memberikan ruang kepada anak-anak ini. Dalam mendidik pun, istilahnya kita tidak bisa nge-gas dengan meminta anak untuk bisa calistung. Tetapi harus siap secara mental, siap nalar dan problem solving, sehingga saat di SD jadi lebih mudah (Beradaptasi di lingkungan baru, Red),” ujarnya. (ren/nik)

Editor : Damianus Bram
#sd #Calistung #mandiri #taman kanak-kanak #PAUD #tk