RADARSOLO.COM – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teater, Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Ratih Ayu Puspitasari meraih prestasi membanggakan. Dia memborong sepuluh medali dalam kompetisi bahasa tingkat nasional.
Mahasiswi angkatan 2023 ini membuktikan kecakapan multilingual di ajang Language Olympiad Festival Vol. 3 Tingkat Nasional. Kompetisi tersebut diselenggarakan secara daring oleh Global Youth and Peace Education Movement (GYPEM) Indonesia, Selasa-Sabtu (12-16/3).
Ratih mengikuti semua bidang bahasa yang dilombakan untuk tingkat perguruan tinggi. Mulai dari bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Mandarin, Jerman, Korea, Perancis, Belanda, Turki, dan Jepang.
Tak tanggung-tanggung, dia memborong medali emas bidang bahasa Mandarin, Jerman, Korea, dan Perancis. Disusul medali perak bidang bahasa Belanda.
Ratih juga menyabet tiga medali perunggu bidang bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab. Termasuk juara harapan III bidang bahasa Turki, serta peringkat delapan bidang bahasa Jepang.
Dekan FSP ISI Surakarta Tatik Harpawati menjelaskan, prestasi gemilang Ratih praktis mengharumkan nama prodi di kancah nasional.
“Semoga dapat memicu rekan-rekan mahasiswa prodi teater, maupun mahasiswa di lingkungan FSP. Harus terus meningkatkan diri dalam meraih prestasi di bidang apapun,” terangnya, Rabu (20/3/2024).
Ketua Prodi Teater Tafsir Hudha menambahkan, kedepan Ratih memiliki keleluasaan memilih wilayah atau peminatan dalam program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM).
“Prestasi ini juga memberikan peluang besar bagi dia. Setidaknya untuk melanjutkan kuliah jenjang berikutnya atau bekerja,” bebernya.
Tafsir menambahkan, bahasa menjadi salah satu keilmuan yang dipelajari dalam prodi teater. Namun di kurikulum hanya menyediakan bahasa Indonesia. Sedangkan bahasa asing atau mancanegara belum diwadahi.
“Kecakapan berbahasa asing sangat diperlukan dalam mengembangkan diri, mendapatkan pengetahuan, kemampuan, serta menciptakan prestasi di kancah dunia. Sehingga diperlukan wadah yang bisa mengembangkan kemampuan berbahasa mahasiswa,” paparnya.
Sementara itu, mahasiswa bisa berbagi pengalaman kompetisi dan ilmu pengetahuan di laboratorium teater. Terutama kemampuan berbahasa.
“Harapannya bisa memantik lembaga atau stakeholder terkait untuk menyediakan ruang yang lebih luas, termasuk pendanaan. Sebagai wadah pengembangan bahasa bagi semua mahasiswa,” harapnya. (zia/fer)
Editor : Niko auglandy