RADARSOLO.COM — Dalam program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) SMP Negeri 14 Solo berinovasi membuat angkringan literasi. Inovasi ini seperti angkringan pada umumnya yang menyediakan gerabah seperti teko dan cangkir.
Hanya saja menu yang ditawarkan adalah buku-buku bacaan. Di sekitar angkringan juga dipasang poster-poster, seperti stop pernikahan dini, seks pranikah, generasi berencana, anti pornografi, dan narkoba.
Konsep angkringan ini digagas Ketua SSK SMPN 14 Solo Yani Soegianto, dengan dukungan Kepala Sekolah SMPN 14 Solo Liestyani Dhamayanti. Konsep angkringan bertujuan agar dapat menarik minat para siswa berliterasi, terutama membaca buku-buku menyangkut materi kependudukan.
Selain itu, angkringan literasi ini diletakkan di area dekat ruang kelas supaya mudah dijangkau para siswa. Mengingat sudah ada perpustakaan yang berada di lantai atas.
Humas SSK SMPN 14 Solo Fauzun Nurish menegaskan, angkringan literasi bertujuan untuk memudahkan siswa melakukan literasi terkait kependudukan. Sekolah juga telah melantik beberapa siswa sebagai duta SSK, yang merupakan tangan panjang terlaksananya program-program siaga kependudukan di lingkungan siswa.
"Harapan kami untuk waktu dekat ini para duta SSK paham materi-materi kependudukan. Kemudian paham dengan masalah-masalah kependudukan di sekitarnya. Ketika mereka paham dan peka, kami harap mereka bisa mengedukasi teman-teman lainnya," harapnya.
Menurut Fauzun, kerja sama program SSK yang tertuang dalam MoU juga telah dilakukan dengan beberapa pihak, di antaranya dengan BNN Kota Solo. Melalui pelantikan duta anti narkoba, diharapkan upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekolah dapat terlaksana, sehingga dapat mewujudkan Sekolah Bersinar (Sekolah Bersih Narkoba).
Bersama Dinas Pengendalian Penduduk, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Perempuan serta Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Solo, dilantik pula Duta PIK-R (Pusat Informasi dan Konseling Remaja) yang menjadi representasi dari Generasi Berencana (GENRE).
"Saat ini, masalah pernikahan dini menjadi topik yang krusial. Pihak DP3AP2KB beberapa waktu lalu mengatakan sekiranya sudah ada 26 kasus pernikahan dini di Kota Solo pada 2024. Kami tidak ingin hal itu terjadi. Dan kami memberi pemahaman kepada siswa bahwa jangan melakukan seks bebas. Apalagi sampai pernikahan dini," bebernya. (zia/nik)
Editor : Niko auglandy