RADARSOLO.COM – Memberikan baju baru untuk buah hati di saat Idul Fitri bisa menjadi sarana edukasi dalam mengajarkan rasa syukur. Asalkan tidak dilakukan secara berlebihan dan menyesuaikan kemampuan.
Mendekati Hari Raya Idul Fitri, tradisi memakai baju baru menjadi hangat diperbincangkan. Dalam konteks ini, Dosen Psikologi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Fiska Puspa Arinda mengatakan, dalam tradisi Islam, memakai baju terbaik saat perayaan Idul Fitri merupakan sesuatu yang disunahkan. Namun ditegaskan Fiska, konsep ”baju terbaik” tidak harus selalu berarti baju yang baru.
”Makna dari baju terbaik ini sebenarnya tidak harus baju baru. Pemakaian baju terbaik lebih berkaitan dengan kesucian dan kebersihan, bukan sekadar baju baru,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (4/4).
Lebih lanjut, Fiska menyinggung masyarakat menjadikan baju baru untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri sebagai tradisi tanpa mengetahui makna sebenarnya.
”Dalam psikologi ada istilah modeling. Jadi anak meniru orang tua karena sedari kecil dibelikan baju baru. Internalisasi diri yang melekat dalam alam bawah sadar membuat dia ingin membeli baju baru,” imbuhnya.
Fiska menambahkan, dalam memaknai tradisi memakai baju baru di Hari Raya Idul Fitri, penting untuk mengajarkan nilai-nilai seperti kesederhanaan, empati, dan rasa syukur kepada anak-anak.
”Yang perlu digarisbawahi bahwa kesadaran akan kondisi sosial yang kurang beruntung juga penting untuk ditanamkan,” imbuhnya.
Menurutnya, kebiasaan memakai baju baru dapat memberikan dampak positif jika dilakukan dengan kesadaran yang tepat.
”Ketika membeli baju baru, kita harus memastikan bahwa hal tersebut tidak dilakukan secara berlebihan atau memaksakan diri. Terutama jika hal tersebut melebihi kemampuan finansial atau tidak sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya,” jelasnya.
Fiska menyebut membeli baju baru untuk perayaan Hari Raya Idul Fitri bukanlah keharusan atau hal yang mutlak.
”Justru penting untuk ditanamkan sejak dini kepada anak bahwa Hari Raya Idul Fitri tidak identik dengan baju baru agar tidak menjadi kebiasaan,” paparnya.
Terlebih, ada potensi dampak negatif. Terutama jika anak-anak terpengaruh untuk mengikuti tren mode yang mungkin tidak nyaman atau melebihi kemampuan keluarga. (zia/adi)
Editor : Adi Pras