Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Tangani Siswa Korban Perundungan, Ini Tips dari Pakar Psikologi

Fauziah Akmal • Sabtu, 20 April 2024 | 20:15 WIB
Ilustrasi bullying
Ilustrasi bullying

 

RADARSOLO.COM — Penanganan perundungan masih belum memperhatikan kebutuhan psikologis korban. Padahal dampak psikologis korban perundungan tidak bias dianggap remeh.

Pakar Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Fiska Puspa Arinda menjelaskan, guru perlu memiliki psychological first aid (PFA) atau kemampuan penanganan psikologis awal. Hal ini untuk menunjang penanganan perundungan secara tepat.

”Tidak jarang ketika terjadi perundungan, tidak ada penanganan psikologis dini. Justru dibiarkan atau sekadar dipisahkan dan dinasihati tanpa ada tindak lanjut,” ungkap Psikolog Klinis tersebut.

Menurut Fiska, dampak psikologis korban perundungan sangat besar. Efek traumatis yang berkelanjutan menyebabkan penurunan kepercayaan diri, kesulitan bersosialisasi, hingga gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

”Pelatihan PFA bagi guru untuk membantu guru memiliki pemahaman dampak psikologis korban perundungan dan mengetahui cara menangani kasus perundungan yang ramah terhadap kebutuhan korban. Misalnya, dengan memberikan kenyamanan psikologis kepada korban,” paparnya.

Fiska menegaskan, banyak pelatihan mengenai psikologi yang dapat diikuti para guru untuk mendapatkan pemahaman PFA dari psikolog atau trainer. Tidak hanya itu, pengetahuan psikoedukasi perlu diberikan, tidak hanya guru tetapi juga siswa untuk meningkatkan kesadaran akan bentuk-bentuk perundangan dan dampak negatifnya.

”Perundungan yang saya temui di sekolah-sekolah, salah satunya terjadi karena rendahnya pengawasan kepada siswa. Sebagai upaya pencegahan, kita harus memonitor lingkungan sekolah aman dan nyaman,” paparnya.

Selain itu, Fiska menyebut terjadinya perundungan di sekolah tidak lepas dari kehadiran siswa yang potensial menjadi pelaku perundungan. Hal ini berkaitan dengan pola asuh orang tua yang memainkan peran penting dalam membentuk perilaku anak.

”Pelaku perundungan bisa jadi karena dia di rumah tidak merasa dihargai, sehingga melampiaskan di sekolah,” imbuhnya.

Pola asuh yang tidak tepat, seperti terlalu memanjakan anak atau menerapkan pola asuh otoriter, dapat menjadi faktor pemicu anak menjadi pelaku perundungan.

”Pola asuh yang otoriter seperti menerapkan hukuman fisik dan sebagainya bisa menjadi pemicu anak menjadi pelaku perundangan. Di sisi lain, pola asuh yang permisif seperti orang tua yang membiarkan anak tanpa batasan dalam bertindak juga bisa menjadi pemicu,” paparnya. (zia/adi)

Editor : Niko auglandy
#bullying #perundungan #guru #psikologi