RADARSOLO.COM - Siswa SMK wasta di Kota Solo menggelar performing art Hari Kartini bertepatan dengan car free day (CFD) perdana pascalebaran di perempatan Ngarsopuro, Solo, Minggu (21/4/2024).
"Karena CFD bagian dari Kota Solo, kami harap bisa bersinergi dengan masyarakat Kota Solo. Semoga bisa menginspirasi dan menumbuhkan semangat perjuangan Kartini secara bersama-sama," terang Kepala SMK tersebut Tri Sabawa Hadi kepada Jawa Pos Radar Solo.
Yustinus mengatakan, kegiatan tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat, bahwa Indonesia mempunyai tokoh yang harus diidolakan bagi kaum muda terutama bagi kaum wanita.
"Bahwa aspirasi wanita sudah ada sejak lama dan diperjuangkan Kartini," paparnya.
Yustinus menambahkan, Hari Kartini menjadi momentum yang tepat untuk merefleksikan perjuangan RA Kartini menyikapi kondisi hari ini dan merancang masa depan.
"Ini momen yang baik bagi anak-anak muda terutama yang perempuan untuk merefleksi kembali perjuangan RA Kartini hari ini seperti apa? Lalu harus bagaimana ke depan? Karena (saat ini) kesetaraan gender belum berjalan dengan baik," imbuhnya.
Dilanjutkan Yustinus, perayaan Hari Kartini digelar spesial, sebab pada tahun-tahun sebelumnya, hanya mengadakan upacara bendera di sekolah.
"Kali ini dikemas dengan performing art untuk menggali potensi anak-anak dalam berkesenian. Karena kesenian sebagai bagian budaya, (kegiatan ini) untuk menggali potensi budaya yang ada dan (memberikan) pemahaman anak anak terhadap nilai-nilai budaya," bebernya.
Pada kegiatan tersebut, serangkaian kesenian ditampilkan siswa kelas X dan XI jurusan Desain Komunikasi Visual, Tata Busana, dan Tata Boga. Mulai dari tarian, pembacaan puisi, peragaan busana, dan gambar batik RA Kartini dalam kain berukuran besar.
Berbagai tarian ditampilkan seperti tari saman, jathilan, dan Maumere yang menggambarkan aneka ragam budaya Nusantara.
"Kami mewadahi anak-anak yang senang dengan tari, mengembangkan ekstrakurikuler menari, sekaligus menanamkan ke anak-anak bahwa budaya Nusantara itu beragam. Sehingga anak-anak harus memiliki rasa memiliki dan melestarikannya," jelasnya.
Disusul dengan pembacaan puisi bertema Kartini yang menyoroti eksistensi dan spirit Kartini yang tetap menyala hingga kini, tidak lekang oleh zaman.
Pembacaan puisi untuk mengingatkan pada generasi muda terutama kaum wanita masih harus terus berjuang.
"Kita juga bisa bersyukur ada satu tokoh yang memberi jalan terhadap kesetaran gender. Dengan rasa syukur itu, kami memiliki kewajiban moral untuk memperjuangkan agar emansipasi wanita terus tumbuh dan berkembang semakin baik," terangnya.
Tak hanya itu, para siswa memeragakan busana kebaya yang dipadukan dengan batik lilit. Lenggak-lenggok para siswa berhasil memukau masyarakat dengan keanggunan yang merefleksikan sosok Kartini yang elegan dan berpengaruh.
"Busana itu produk siswa yang diperagakan dalam peringatan hari Kartini ini," imbuhnya.
Terdapat gambar-gambar batik yang membentuk sosok Kartini dalam media kain berukuran besar karya siswa DKV. Karya tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya dan semangat perjuangan Kartini diwarnai pengunjung yang hadir. (zia/nik)
Editor : Niko auglandy