RADARSOLO.COM — Memperingati Hari Bumi, SMPN 7 Surakarta menggelar serangkaian kegiatan. Mulai dari penanaman pohon, hingga penerapan hari tanpa plastik di lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut guna membiasakan warga sekolah untuk menjaga lingkungan.
Kepala SMPN 7 Surakarta Siti Latifah mengatakan, kegiatan penanaman pohon dilakukan guna meningkatkan kerindangan sekolah. Sehingga kegiatan belajar dan mengajar menjadi nyaman.
"Selain membuat teduh, nantinya menanam pohon untuk melatih para siswa dalam merawat tanaman yang ada di sekolah," ujar Ifah (sapaan akrab Siti Latifah).
Penanaman pohon dilakukan kepala sekolah tim adiwiyata, dan staf tata usaha, tepat pada Hari Bumi, Senin (22/4) lalu. Sementara pada jam istirahat, para siswa membersihkan lingkungan sekitar kelas dengan mengumpulkan daun kering yang akan dimanfaatkan menjadi humus.
Ifah menambahkan, "Planet versus Plastik" sebagai tajuk Hari Bumi tahun ini relevan dengan visi SMP Negeri 7 Surakarta, yaitu unggul dalam prestasi berdasarkan iman dan taqwa, berwawasan lingkungan, dan budaya.
"Artinya, SMPN 7 Surakarta menjaga lingkungan di dalam sekolah maupun di luar sekolah. Hal ini juga relevan dengan SMP Negeri 7 Surakarta sebagai sekolah adiwiyata Nasional pada 2022 dan menuju sekolah adiwiyata mandiri di 2024 ini," bebernya.
Mengingat pada Hari Bumi bertepatan dengan para siswa tengah melaksanakan penilaian sumatif, peringatan tersebut dilanjutkan pada Jumat (26/4) ditandai dengan penerapan hari tanpa plastik di lingkungan sekolah.
Dimulai dengan kegiatan sarapan bersama di lapangan sekolah. Siswa, guru, dan staf membawa bekal dan minuman dari rumah menggunakan wadah yang bukan kemasan sekali pakai. Di luar Hari Bumi, program sarapan bareng (sabar) sudah menjadi rutinitas bulanan.
"Ini untuk membiasakan siswa agar bisa mengurangi sampah plastik. Selain itu, dengan makan bersama para siswa mungkin akan saling berbagi," beber Ifah.
Pengelola kantin ikut dilibatkan, yakni dengan dilarang menjual jajanan dalam kemasan plastik. Para siswa yang akan jajan diharuskan untuk membawa wadah sendiri.
"Jika ada yang kedapatan tidak membawa botol misalnya, maka tidak dilayani dulu. Itu sebagai konsekuensinya. Jadi kami tidak menerapkan sanksi dan reward sesuai Kurikulum Merdeka, yaitu disiplin positif," imbuhnya. (zia/nik)
Editor : Niko auglandy