Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Data BPS Februari 2024: Tingkat Pengangguran Lulusan SMK Tertinggi, Ini Catatannya

Fauziah Akmal • Kamis, 23 Mei 2024 | 03:53 WIB
Ilustrasi perayaan kelulusan salah satu SMK di Kota Solo.
Ilustrasi perayaan kelulusan salah satu SMK di Kota Solo.

RADARSOLO.COM - Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) tamatan sekolah menengah kejurian (SMK) menduduki peringkat tertinggi, dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya. Persentasenya mencapai 8,62 persen.

Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Sekolah Menengah Kejuruan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Wardani Sugitanto mengatakan, menjadi tantangan untuk meningkatkan keterserapan tenaga kerja tamatan SMK.

"Tapi itu bukan masalahnya SMK atau pendidikan vokasi tetapi masalah kita bersama," bebernya.

Sebab dengan terserapnya tamatan SMK di dunia industri, Wardani menilai, bukan menguntungkan sekolah vokasi. Melainkan menguntungkan negara dan masyarakat.

"Karena di situ pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan (masyarakat) akan naik," imbuhnya.

Wardani menambahkan, diperlukan kolaborasi antara SMK, perguruan tinggi vokasi, dan industri. Salah satunya untuk meningkatkan keterampilan siswa SMK, sehingga diharapkan dapat meningkatkan keterserapan mereka di dunia industri.

"Antara SMK, Politeknik, dan industri berkolaborasi bersama untuk pengembangan teaching factory, pemagangan, dan sebagainya. Karena kebetulan kemarin kami baru saja paparan ke Kementerian Keuangan disetujui terkait dengan teaching factory bersama antara SMK, Politeknik, dengan industri. Kalau bisa didanai itu akan menjadi bisnis bersama, sehingga ide kreatif dari politeknik bisa dikerjakan bersama industri dan tenaga-tenaga SMK yang akan mendukung," paparnya.

Disinggung mengenai kurikulum, Wardani menyampaikan, sejak kurikulum 2013 (K-13) mempertajam satuan pendidikan untuk menyusun kurikulum yang berbeda antar-SMK. Terutama dengan menyesuaikan potensi daerah masing-masing.

"Ditambah dengan Kurikulum Merdeka yang pembelajarannya berbasis pada dunia kerja dan berpusat pada peserta didik. Artinya, kurikulum harus disinkronisasi dengan dunia kerja," jelasnya. (zia/fer)

Editor : fery ardi susanto
#tingkat pengangguran lulusan smk #lulusan smk di solo