RADARSOLO.COM – Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) pada Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) tamatan sekolah menengah kejuruan (SMK) masih merupakan yang paling tinggi. Tentunya jika dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 8,62 persen.
Pengawas SMK menilai karena jumlah SMK lebih banyak daripada SMA. Selain itu, SMK kecil dinilai sebagai penyumbang pengangguran.
Koordinator Pengawas SMK Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Cabdin) Jawa Tengah Wilayah VII Sigit Martopo mengatakan, jumlah SMK di Kota Bengawan lebih banyak daripada SMA. Tercatat, ada 48 SMK dan 32 SMA baik negeri maupun swasta.
"Otomatis tamatan pun lebih banyak yang dari SMK. Sehingga yang bisa diserap di industri juga lebih sedikit karena persaingannya semakin banyak, maka banyak pengangguran," ujar Sigit kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (7/6).
Guna mengurangi pengangguran, lanjut Sigit, sekolah harus serius membina siswa untuk merintis menjadi wirausahawan muda.
"Hanya yang menjadi kendala di sini, tidak setiap sekolah mampu menyiapkan sarana prasarana atau fasilitas yang memadai. Kalau sekolah negeri dan sekolah swasta yang mungkin sudah lama dan mapan betul-betul kuat ya, tapi sekolah swasta yang kecil belum tentu," bebernya.
Sigit menambahkan, sekolah yang mapan, terutama SMK negeri lebih banyak menerapkan pembelajaran praktik dibandingkan dengan teori.
Dalam pembelajaran, guru hanya sebagai fasilitator yang memberikan materi stimulan sedikit saja. Dari situ siswa bisa mengembangkan sendiri karena fasilitasnya sudah disediakan.
"Sehingga mereka begitu mulai praktek hampir sepanjang tahun tidak pernah ada siswa yang absen. Karena memang mereka senang dan merasa kompetensinya akan tertinggal dengan siswa lain apabila tidak mengikuti prakek hari ini. Dan hampir setiap praktek itu variatif," hematnya.
Sigit menilai, banyak SMK kecil yang tertinggal dari sekolah lain yang lebih bonafit. Menurutnya, sekolah yang kecil dengan jumlah siswa sedikit membutuhkan biaya operasionalnya tinggi. Sehingga mereka kebanyakan memberikan teori atau hanya berkunjung ke sekolah lain atau berkunjung ke industri.
"Hanya melihat dari dekat saja tapi tidak mempraktekkan atau mungkin belum sempat mengimplementasikan, maka kompetensi siswa belum mantap. Sehingga secara tidak langsung ini yang membuat banyak pengangguran," imbuhnya.
Menurut Sigit, SMK kecil yang belum bonafit sebaiknya lebih fokus mengembangkan satu program keahlian atau jurusan, dibandingkan membuka lebih banyak jurusan dengan jumlah siswa minimalis. Sebab, akan berdampak terhadap biaya operasional yang dibutuhkan sekolah.
"Lebih baik konsentrasinya itu hanya satu atau maksimal dua saja tetapi fokus. Sehingga peralatan atau fasilitas penunjang pembelajaran bisa dimaksimalkan. Dengan fokus pada satu atau dua jurusan, sekolah akan lebih mudah dalam memasarkan tamatan ke industri mana pun," tandasnya. (zia/nik)
Editor : Niko auglandy