RADARSOLO.COM - Kulit tubuh yang terluka, berpotensi terinfeksi bakteri, munculnya eksudat, hingga bekas luka. Maka diperlukan penangan luka yang efektif, untuk mengindari komplikasi di atas.
Nah, siswa salah satu madrasah aliyah negeri (MAN) di Solo punya solusinya. Berupa obat luka yang dinamai Aloetosan Hidrogel.
Aloetosan Hidrogel merupakan obat luka dari lidah buaya dan ekstrak kitosan cangkang udang.
Inovasi ini karya Hamid Mabruri, M. Faiz Al Abidin, Akmal Musthofa Wibawa, Humaira Fatiha Rahma, dan Malva Kayla Tsabita. Di bawah bimbingan guru mereka Teguh Handoko.
Hamid Mabruri menjelaskan, sengaja memulih limbah cangkang udang sebagai bahan utama selain lidah buaya. Karena cangkang udang sering terbuang percuma setelah dagingnya dikonsumsi.
Ternyata, cangkang udang bisa dimanfaatkan sebagai produk kitosan. Di mana kitosan adalah polisakarida yang diekstraksi dari kitin. Biasa ditemukan dalam krustasea seperti udang, kepiting, dan lobster.
“Udang memiliki kandungan kitin, protein, dan kalsium karbonat di dalamnya. Berdasarkan penelitian ilmiah, kitosan memiliki sifat antibakteri. Membantu mencegah pertumbuhan bakteri di area luka,” papar Hamid.
Kemudian lidah buaya dipilih karena komoditasnya melimpah. Selain itu, lidah buaya mengandung auksin, gibber-relin, antrakuinon, serta vitamin A, C, dan E.
Terbukti khasiatnya sebagai antiinflamasi, antipiretik, antioksidan, antiseptik, antimikroba, serta antivirus. Selain itu, lidah buaya juga ampuh menjaga kelembaban kulit.
Proses pembuatan kitosan, dimulai dengan pembersihan cangkang udang dengan air mendidih selama lima kali.
Kemudian dicuci dengan akuades. Setelah itu dikeringkan selama 4 jam di dalam air frayer, lalu dihaluskan dengan blender.
Untuk menghilangkan protein, ditambahkan larutan NaOH 3,5 persen. Serta dipanaskan selama 2 jam di dalam magnetic stirrer. Setelah deproteinasi, dilakukan pencucian dan pengeringan pada suhu 65 derajat Celcius.
Proses berikutnya adalah demineralisasi, dengan menambahkan larutan HCl 1 M pada suhu kamar selama 30 menit. Kembali dilakukan pencucian dan pengeringan, sehingga diperoleh serbuk kitin.
Terakhir, proses deasetilasi dengan menambahkan larutan NaOH 50 persen pada suhu 100 derajat Celcius selama 30 menit.
Kemudian dicuci dan dikeringkan lagi pada suhu 65 derajat Celcius untuk menghasilkan serbuk kitosan.
Terkait pembuatan Aloetosan Hidrogel, serbuk kitosan dilarutkan dengan asam asetat. Sementara daging lidah buaya dihaluskan dengan blender.
Kemudian tambahkan larutan natrium karboksimetil selulosa, akuades, gliserin, dan propilen glikol.
“Bahan-bahan tersebut diaduk hingga mengental menjadi gel. Kemudian tambahkan larutan NaOH sebanyak 1,25 persen untuk menetralkan pH,” imbuh Hamid.
Produk ini diklaim ampuh untuk mengobati luka pada kulit. Selain itu, juga mempercepat proses penyembuhan luka dan mengurangi risiko infeksi.
“Hidrogel ini telah diujikan pada tikus yang mengalami luka sayat. Hasilnya, luka tikus yang diaplikasikan Hidrogel sudah mengering dan tertutup pada hari kelima. Sementara, luka tikus yang dibiarkan saja masih berwarna merah, belum kering, dan sedikit terbuka. Selain itu, Hidrogel ini aman diaplikasikan pada kulit manusia, karena sudah lulus uji iritasi,” bebernya.
Keunggulan Aloetosan Hidrogel adalah, sangat praktis dalam merawat luka. Karena mudah diaplikasikan ke permukaan luka, tanpa menyebabkan trauma tambahan. Serta tanpa meninggalkan residu yang mengganggu.
“Produk ini diharapkan menjadi alternatif obat luka berbahan ramah lingkungan. Bisa dikembangkan dan dikomersialkan, sehingga membuka ladang perekonomian,” tandasnya. (zia/fer)
Editor : Damianus Bram