Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

BEM Jateng-DIJ Desak Kampus Steril dari Tindakan Represif

Fauziah Akmal • Sabtu, 14 September 2024 | 23:00 WIB
Ilustrasi aksi damai BEM dan organisasi mahasiswa UNS menuntut pembatalan kenaikan UKT di boulevard kampus setempat, Senin sore (27/5).
Ilustrasi aksi damai BEM dan organisasi mahasiswa UNS menuntut pembatalan kenaikan UKT di boulevard kampus setempat, Senin sore (27/5).

RADARSOLO.COM — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jateng-DIJ mendesak pihak kampus untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari tindakan represif. Desakan ini muncul menyusul berbagai tindakan pembatasan yang kerap dihadapi mahasiswa saat menyuarakan kritik terhadap kebijakan kampus dan pemerintah.

Koordinator Wilayah BEM Jateng-DIJ, Bahrudin Wahyu Aji Dwi Sujiwo menegaskan bahwa kampus sebagai lembaga pendidikan seharusnya menjadi ruang terbuka bagi kebebasan berpikir dan berekspresi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, justru terjadi peningkatan pembatasan terhadap kegiatan mahasiswa yang dianggap kritis.

"Represivitas kampus sudah sangat terasa. Banyak mahasiswa yang dihentikan kegiatannya, disanksi, atau bahkan mengalami penyensoran atas karya tulis mereka hanya karena berani kritis," ungkap Bahrudin.

Baca Juga: Keseruan Tim PPKO BEM Farmasi UMS Kenalkan Produk Oemah Jamu di Sela Kirab Ageng Merti Bumi Merapi di Kemalang Klaten

Lebih lanjut, Bahrudin menggarisbawahi bahwa tindakan-tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan akademik yang seharusnya dijunjung tinggi di perguruan tinggi. BEM Jateng-DIJ mendesak agar kampus menghindari segala bentuk pembatasan yang dapat menghambat budaya berpikir kritis di kalangan mahasiswa.

"Kami meminta agar kampus steril dari segala bentuk represivitas. Proses pendidikan harus berjalan dengan mengedepankan nilai-nilai demokratis, di mana kebebasan akademik menjadi pilar utamanya," ujar Bahrudin.

Tak hanya soal kebebasan berekspresi, Bahrudin juga menyoroti pentingnya akses pendidikan gratis bagi semua mahasiswa. Dia menilai, pemerintah belum memiliki formula yang tepat dalam mengalokasikan dana pendidikan, sehingga biaya kuliah masih dianggap mahal oleh banyak kalangan.

"Pendidikan yang murah dan gratis seharusnya bukan lagi impian, melainkan realitas. Undang-undang sudah mengamanatkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ini harus diwujudkan dengan menyediakan akses pendidikan yang terjangkau bagi semua orang," tegasnya.

Bahrudin menambahkan, perjuangan untuk pendidikan gratis adalah perjuangan yang menyatukan semua kalangan tanpa memandang perbedaan ideologi atau status sosial. Semua pihak, baik yang konservatif maupun progresif, pasti mendukung gagasan pendidikan gratis. (zia/bun)

Editor : Niko auglandy
#kampus #bem