RADARSOLO.COM-Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Solo mengadakan sosialisasi dan simulasi mitigasi bencana di SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo, Jumat (13/9).
Kegiatan ini diikuti oleh 454 siswa dan 40 guru serta tenaga kependidikan, dengan tujuan membekali siswa keterampilan dan pengetahuan dalam menghadapi situasi darurat.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan Sarpras Muhamad Arifin menjelaskan, kegiatan ini bertujuan melatih kesiapsiagaan sivitas akademika dalam menghadapi bencana seperti gempa bumi dan kebakaran.
"Warga sekolah diharapkan tidak panik dan tetap mengikuti arahan apabila terjadi bencana alam, nonalam, dan sosial. Kami juga ingin memberikan pengetahuan dan pemahaman cara mengantisipasi ancaman potensi gempa megathrust yang akhir-akhir ini dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)," beber dia.
Selama kegiatan tersebut, tim MDMC memberikan materi mengenai penanganan kebakaran, gempa bumi, proses evakuasi, dan pertolongan pertama gawat darurat (PPGD).
Instruktur MDMC Solo Mugiyanto menekankan, pentingnya simulasi bencana untuk meningkatkan kewaspadaan dan pengetahuan siswa.
"Waspada jika terjadi bencana gempa bumi, lindungi kepala kita menggunakan tangan atau tas yang kita bawa, berlindung di bawah meja, hindari kaca yang mudah pecah, jika dirasa aman segera cari lokasi titik kumpul yang terbuka," pesan Mugiyanto kepada para siswa.
Adriansyah, perawat ICU RS PKU Muhammadiyah Solo juga memberikan pemaparan tentang lima langkah yang harus disiapkan untuk antisipasi bencana.
Langkah pertama adalah membentuk tim khusus untuk pembagian tugas antisipasi bencana.
Kedua, melakukan deteksi dini bencana yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah.
Ketiga, memiliki kemampuan untuk mengontrol diri saat terjadi bencana, seperti tidak mudah panik dan mampu memprioritaskan yang perlu diselamatkan.
Keempat, belajar pertolongan pertama pada korban, seperti pijat jantung. Kelima, merancang dan mempraktikkan evakuasi korban bencana.
Selain materi, siswa juga melakukan praktik penanganan pertolongan pertama, proses evakuasi menggunakan tandu, dan simulasi evakuasi apabila terjadi gempa bumi.
Tiap kategori kelas juga diajarkan cara memadamkan api ringan.
Genio Azzaheer Istiyawan, siswa kelas II menceritakan pengalamannya saat simulasi berlangsung.
"Seru, serasa benar-benar terjadi peristiwa gempa hari ini. Awalnya kami merasa panik saat sirene mulai dibunyikan," terangnya.
"Ustazah meminta kita untuk tetap tenang, segera berlindung di bawah meja. Setelah sirine tanda gempa berhenti, kami diminta turun ke titik kumpul dengan berjalan menunduk secara bergantian sambil menutup kepala menggunakan tas sekolah," pungkas dia. (zia/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono