Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Jajanan Sekolah di Solo Raya Mengandung Mikroplastik, Ini Ancamannya bagi Kesehatan Anak

Fauziah Akmal • Kamis, 3 Oktober 2024 | 03:16 WIB

 

 

Makan gratis bergizi di SDN Mijen Kota Solo. (Arief Budiman/Radar Solo)
Makan gratis bergizi di SDN Mijen Kota Solo. (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Sebuah temuan mengejutkan terkait jajanan sekolah di Solo Raya. Riset Yayasan Gita Pertiwi menemukan adanya kandungan mikroplastik pada jajanan anak-anak yang beredar di beberapa SD dan SMP. Mikroplastik ini diduga berasal dari kemasan plastik sekali pakai yang masih lazim digunakan di kantin sekolah, sehingga berpotensi membahayakan kesehatan para siswa.

Peneliti Yayasan Gita Pertiwi, Itsnainingrum Sekar Wijaya menjelaskan bahwa penelitian ini berawal dari program sekolah ekologis yang mereka inisiasi. Melalui program tersebut, mereka melakukan riset mengenai timbunan sampah di beberapa sekolah, yang kemudian dilanjutkan dengan riset mikroplastik terhadap jajanan yang dijual di kantin.

“Dari program sekolah ekologis, kami memulai riset dengan menganalisis timbunan sampah dan melakukan brand audit. Ternyata, banyak sampah plastik yang menumpuk di sekolah. Dari situ, kami lanjutkan dengan riset mikroplastik pada jajanan anak sekolah,” ujar Itsnainingrum kepada Jawa Pos Radar Solo, Rabu (2/10).

Penelitian tersebut dilakukan di beberapa sekolah SD/MI dan SMP di Solo Raya. Dari total timbunan sampah yang tercatat sebanyak 27.785 kilogram, ditemukan bahwa mayoritas sampah yang mengandung mikroplastik berasal dari kemasan kertas minyak 22 persen dan plastik bening 19 persen. Dua sekolah yang menghasilkan sampah terbanyak adalah SMPN 3 Colomadu di Karanganyar dan SMPN 9 Solo.

“Karena dua sekolah tersebut menghasilkan timbunan sampah terbanyak, maka kami fokuskan riset mikroplastik pada jajanan di dua sekolah ini,” tambahnya.

Hasil riset menunjukkan bahwa beberapa jenis jajanan seperti risoles yang dikemas menggunakan plastik bening, nasi goreng dengan kertas minyak, serta roti kemasan sachet mengandung mikroplastik berjenis fiber dan fragmen.

Mikroplastik fiber ditemukan pada risoles dengan jumlah dua partikel, sementara fragmen ditemukan pada risoles dengan tiga partikel, nasi goreng dengan tiga partikel, dan roti kemasan dengan satu partikel.

Ukuran mikroplastik yang terdeteksi berkisar antara 17 µm hingga 465 µm. Menurut Itsnainingrum, mikroplastik berukuran kecil ini tidak mudah terurai oleh sistem pencernaan manusia, sehingga berpotensi menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang.

“Mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran kurang dari 5 mm yang sulit diuraikan oleh sistem pencernaan dan dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Meskipun belum ada standar batas aman mikroplastik dalam tubuh, risiko bahaya seperti kanker dan gangguan kesehatan lainnya tetap ada,” jelasnya.

Untuk mengatasi masalah ini, Yayasan Gita Pertiwi merekomendasikan agar sekolah-sekolah mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Langkah yang disarankan antara lain beralih ke kemasan alternatif seperti daun atau wadah guna ulang.

“Kita perlu regulasi bersama dengan pengelola kantin dan supplier untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik. Memang tidak mungkin langsung menghapus plastik sekali pakai secara keseluruhan karena membutuhkan proses yang panjang. Namun, kita harus mulai dari sekarang,” ujarnya.

Selain itu, Yayasan Gita Pertiwi juga mengajak para orang tua untuk lebih peduli dalam meminimalisir penggunaan plastik pada makanan anak-anak. Mereka menyarankan agar anak-anak membawa wadah makan guna ulang dan tidak lagi menggunakan kemasan sekali pakai, baik di sekolah maupun di rumah.

Dengan temuan ini, Yayasan Gita Pertiwi semakin mempertegas misinya untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah. Mereka berharap kesadaran akan bahaya plastik dapat tumbuh tidak hanya di lingkungan pendidikan, tetapi juga di dalam keluarga.

“Anak-anak kita adalah generasi penerus bangsa. Kita harus bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap sehat untuk masa depan mereka,” tutup Itsnainingrum.

Temuan ini tentu memicu kekhawatiran di kalangan orang tua dan pihak sekolah. Langkah-langkah pencegahan serta regulasi yang tepat perlu segera diterapkan untuk melindungi generasi muda dari paparan mikroplastik yang dapat mengancam kesehatan mereka di masa depan. (zia/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#mikroplastik #jajanan #sekolah #sampah