RADARSOLO.COM - Lima sajian musik karya mahasiswa Program Studi Seni Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo memukau publik. Tepatnya dalam ajang Dapoer Boenyi 2024 yang digelar di Teater Besar Gendhon Humardani, Jumat malam (4/10).
Komposisi musik yang unik dari paduan alat musik seperti cak, cuk, flute bass, kongahyan, dan babano menjadi sajian musik pembukanya. Elemen bunyi, ritme, dan melodi yang berpadu dengan apik ini merupakan karya komposer Muhammad Zain Dzaky Amas.
Zain menjelaskan, karyanya berjudul Ruang Gantung. Ini merupakan hasil eksplorasinya terhadap frasa gantung.
"Karya ini tidak lepas dari latar belakang saya sebagai praktisi karawitan, sekaligus praktisi keroncong. Untuk pemilihan alat musik karena cukup penghayatan. Menurut saya pemakaian instrumen itu lebih fleksibel. Prosesnya bisa di mana saja tanpa butuh ruang dan tanpa alat yang berat-berat," jelasnya.
Zain menjelaskan, karya ini merupakan bentuk upayanya dalam menjaga dan merawat tradisi. Yakni dengan cara menciptakan sebuah komposisi musik yang baru dengan menggunakan objek yang ada di Indonesia, baik modern maupun tradisional.
Selain Ruang Gantung, terdapat empat sajian musik lain, yakni sajian Penghujung Barat Indonesia yang dikomposeri oleh Galih Wisnu Kesowo. Kemudian karya berjudul Padhang Mbulan dengan komposer Muhammad Yofan Firnanda dan Pattasi karya Silvester Ibnu Sadewa. Ditutup sajian akhir berjudul Gandang Ceklek'an karya komposer Panji Bagaskoro.
Meskipun sajian musik ini karya mahasiswa Seni Karawitan, tetapi para penampil berasal dari berbagai prodi di Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta. Lima sajian musik ini pun berhasil memantik diskusi dengan para penonton yang memenuhi teater besar ISI Surakarta. Tidak hanya penonton dalam negeri, tetapi juga penonton dari mancanegara, seperti dari Polandia hingga Meksiko.
Sementara itu, Kepala Prodi Seni Karawitan Darno menambahkan, Dapoer Boenyi sebagai wadah berkreasi dalam mengelola bunyi-bunyi yang berserakan untuk dikemas dengan konsep tertentu.
"Diharapkan pada 2025 warna pergelaran tidak hanya satu warna, tetapi banyak warna. Ini karena karawitan itu sangat beragam. Bagi mahasiswa silakan ruang dan celah di kampus diisi untuk perwujudan sikap kreatif yang bebas. Kerja sama ini tentu sebuah keniscayaan untuk mewujudkan karya inovatif. Semoga menginspirasi dan menghibur semua," papar Darno dalam sambutannya.
Ketua Panitia Dapoer Boenyi 2024 Ibnu Fajarrudin menjelaskan, kegiatan ini menjadi tempat proses kreatif mahasiswa dalam mengolah karya musik agar tercipta karya yang luar biasa.(zia/nik)
Editor : Niko auglandy