Pilkada Solo: Teguh Prakosa dan Respati Adi Siap Perhatikan Guru Pendidikan Nonformal

Silvester Kurniawan • Dipublikasikan Kamis, 10 Oktober 2024 | 17:00 WIB
Festival Pendidikan Nonformal yang digelar di Kota Solo.
Festival Pendidikan Nonformal yang digelar di Kota Solo.

RADARSOLO.COM — Program peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) jadi salah satu faktor penting pasca pembangunan infrastruktur yang digenjot dalam 4 tahun terakhir.

Soal ini, baik paslon nomor urut 1 maupun 2 dalam Pilkada Solo sama-sama punya perhatian guna meningkatkan kualitas SDM. Salah satunya dengan perhatian lebih pada praktisi pendidikan nonformal di Kota Solo.

Calon wali kota nomor urut 01, Teguh Prakosa siap memberi perhatian lebih pada praktisi pendidikan nonformal.

“Guru memiliki peran penting dalam membantu orangtua dalam membekali anak dengan pengetahuan dan keterampilan. Pemberian intensif ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi serta kesejahteraan para guru TPA, sekolah Minggu, kesenian, guru PAUD, dan guru pendidikan khusus,” terang Teguh Prakosa dalam beberapa waktu terakhir

Sementara itu, Minggu (6/10) lalu, calon wali kota nomor 2 Respati Ardi berkunjung ke salah satu panti asuhan di Kratonan, Serengan. Dalam kesempatan itu, dia bertukar pikiran dengan para praktisi pendidikan nonformal.

Mulai dari guru TPA hingga para tokoh yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Pasangan Astrid Widayani mengungkapkan, bahwa dia mendapatkan tugas dari Presiden Joko Widodo untuk melanjutkan program-program di Kota Solo.

“Setelah kemarin infrastruktur bangunan yang luar biasa, sekarang yang kami persiapkan adalah manusianya. Peningkatan kualitas SDM ini jadi PR kita bersama. Saya punya program posyandu plus. Plusnya itu bantuan mental health. Akan kami tambahkan di posyandu peran psikolog dan rohaniawan,” kata Respati belum lama ini.

Dalam kesempatan itu dia menerima banyak masukan dari para praktisi pendidikan nonformal dan aktivis sosial yang hadir kala itu. Salah satunya perihal peningkatan kesejahteraan guru TPA yang ada di Solo.

Mereka ingin n kegiatan TPA bukan hanya sekadar mengisi waktu luang, namun jadi salah satu sarana pendidikan yang dianggap penting di masyarakat. Oleh sebab itu legalitas yayasan jadi salah satu opsi paling penting yang dikomunikasikan kala itu.

“Terkait legalitas tentu sudah jadi bidang saya sehari-hari, nanti saya siapkan semuanya. Kalau untuk kepentingan sosial saya siapkan semuanya,” beber Respati. (ves/nik)

 

 

Editor : Niko auglandy
pendidikan nonformal Respati Teguh